STRES telah menjadi bagian hidup dari para pekerja di Indonesia. Survei yang dilakukan Regus mengatakan bahwa 64 persen pekerja di Indonesia merasa tingkatan stres mereka bertambah dibandingkan tahun lalu.
Dunia pekerjaan begitu akrab dengan tekanan yang kerap kali membuat orang merasa stres. Sebuah survei yang dilakukan pada lebih dari 16 ribu orang pekerja profesional di seluruh dunia, ditemukan bahwa lebih dari setengah pekerja di Indonesia, yakni 64 persennya mengatakan bahwa tingkatan stres mereka bertambah dibandingkan tahun lalu.
Sejumlah faktor dalam negeri, seperti kemacetan lalu lintas dan kenaikan harga, ditambah dengan ketidak-stabilan terus-menerus dalam bidang ekonomi membuat tekanan semakin bertambah. Responden juga mengonfirmasi bahwa pemicu stres lebih banyak disebabkan karena lingkungan profesional dibandingkan dengan lingkungan pribadi. Faktor utama stres lain, di antaranya pekerjaan, manajemen, dan keuangan pribadi.
Tak hanya meneliti, survei ini juga berfokus untuk mencari solusi untuk mengurai stres pekerja. Hasilnya, 64 persen responden Indonesia mengatakan bahwa bekerja secara fleksibel merupakan salah satu cara untuk mengurangi stres. Selain itu, 73 persen responden juga mengatakan, pekerjaan fleksibel dapat meningkatkan produktivitas. Dampaknya ialah membantu staf untuk mengurangi stres adalah pengurangan biaya.
“Tidak diragukan lagi, pekerja yang stres tidak bahagia dan tidak sehat. Jadi, perusahaan yang ingin membantu staf mereka hidup lebih layak, tidak boleh lalai dalam menganalisa dan mengatasi tingkatan stres di dalam organisasi mereka,” tutur Fillipo Sarti, CEO Regus Asia, lewat e-mail yang diterima redaksi Okezone, Senin (17/9/2012).
Ternyata, stres berat tidak hanya dialami oleh karyawan, hal ini juga dialami dalam perusahaan, saat mereka mengetahui bahwa karyawannya tidak mampu bekerja seperti yang diinginkan, sakit-sakitan, dan kurang efisien.
“Tingkat stres terus meningkat di seluruh dunia membuat karyawan semakin dekat pada tingkat burnout,” kata Jaime Lim, Manajer dari PeopleSearch.
Dalam jangka pendek, hal ini dapat berarti kehilangan pekerja yang berkualitas dan berurusan dengan produktivitas yang rendah. Karena karyawan harus mengatasi stres yang berkaitan dengan masalah kesehatan, insomnia, dan kelelahan, tapi efek jangka panjang dari tekanan ini masih sulit diprediksi dan mungkin berbahaya.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.