Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Istana Cahaya Pierre Cardin

SINDO , Jurnalis-Minggu, 08 April 2012 |10:29 WIB
Istana Cahaya Pierre Cardin
Koleksi Pierre Cardin (Foto: Google)
A
A
A

TERINSPIRASI gedung konseptual terbarunya yang akan dibangun di Venice, Italia, Pierre Cardin menghadirkan koleksi busana bergaya arsitektural di Water Cube, Beijing.

Tanggal 1 April tidak melulu berarti April Mop. Perancang veteran asal Prancis, Pierre Cardin, justru menjadikan tanggal yang identik dengan kejahilan tersebut sebagai hari perayaan. Desainer berusia 89 tahun itu memilih 1 April sebagai hari pertunjukan Dreaming of Palais Lumiere—yang berarti memimpikan istana cahaya, fashion show yang terinspirasi dari gedung konseptual yang akan dibangun di Venice, Italia, September mendatang.
 
Gedung yang akan dinamai Light Palace atau Istana Cahaya itu merupakan proyek ambisius terbaru desainer yang terus punya semangat muda itu. Gedung tersebut terdiri dari tiga menara kaca setinggi 240 meter yang bakal dihubungkan lewat enam cakram bersusun yang menjadi ruang terbuka publik berupa taman, danau buatan, dan kolam renang.
 
Selain di Venice, Cardin juga berharap bisa membuat gedung konseptual serupa di China. Dalam wawancaranya dengan AFP, Cardin mengatakan, gedung konsep tersebut akan dibangun dengan gaya signature fashion-nya alias kental dengan nuansa futuristis.
 
”Di dalamnya akan terdapat 10 restoran, 1.500 apartemen, 50 elevator, bioskop, ruang konferensi, teater, mal, universitas, sekaligus landasan helikopter,” sebutnya.
 
Selain itu, di lantai dasar gedung,Cardin akan membangun beberapa ”rumah jamur” yang juga merupakan signature karyanya.

Cardin mengungkapkan, konsep tiga menara yang disatukan menggunakan cakram beton itu terinspirasi dari rangkaian bunga dalam buket.”Saya melihat tiga bunga dalam sebuah buket,lalu saya berpikir,tentu hal tersebut akan terlihat cantik jika diaplikasikan menjadi sebuah gedung,” kata desainer yang juga memastikan gedung ambisiusnya itu akan menjadi gedung yang ramah lingkungan. ”Futuristik dan eco-sustainable,” ungkapnya.Cardin menambahkan, gedung tersebut akan menggunakan tenaga cahaya matahari dan angin sebagai sumber energi,juga kaca spesial yang bisa mengeliminasi efek rumah kaca.

Pria yang memulai bisnis modenya pada 1949 ini menyebutkan,pembangunan proyek futuristis itu bakal menghabiskan biaya USD2 miliar atau setara dengan Rp18,22 triliun. ”Proyeknya dimulai pada September dan akan berlangsung selama lima tahun,”ujar Cardin. Adapun alasan Cardin membangun gedung di Venice karena Paris sudah tidak lagi memiliki lahan kosong yang luas.”Saya sebenarnya ingin mendirikan gedung tersebut di Paris.Tapi,di mana kita bisa menemukan lahan kosong seluas 50 hektare di pusat Kota Paris?”katanya, beretorika. Adapun di atas catwalk, Cardin mengetengahkan napas futuristik seperti yang selalu dilakukannya sejak 1960.

Busana-busana bergaya arsitektural mendominasi catwalk,termasuk di antaranya gaun dengan hiasan cakram berulir,yang mirip penggambaran Cardin akan Palais Lumiere.Sementara, menerjemahkan istilah istana cahaya,catwalk Pierre Cardin di Water Cube,Beijing,pun bermandikan cahaya penuh warna,bagaikan pelangi. Di Asia,Cardin sudah menjadi figur mode yang familier. Cardin adalah pengusaha mode pertama yang berspekulasi untuk menyasar pasar China sekaligus menjadi desainer Paris pertama membuka flagship store di China.

Nama Cardin terus populer di Asia,terutama pada 2009 ketika dia menjual 32 lisensi untuk tekstil dan aksesori kepada pengusaha asal China, Jiangsheng Trading Company dan Cardanro seharga 200 juta euro. Cardin mengaku,China selalu menarik perhatiannya, terutama dalam mengembangkan bisnis.Karena itu,tidak mengherankan bila kemudian China menjadi target lokasi berikut untuk membangun Palais Lumiere yang kedua. Selain mempertunjukkan koleksi fashion di Beijing,Cardin telah berdiskusi dengan pemerintah China guna mencari lokasi strategis bagi pembangunan gedungnya.

Dia bahkan sudah mengunjungi Pulau Hainan,begitu juga dengan daerah Xiamen dan Qingdao di bagian timur China. ”China selalu menarik perhatian saya.Budaya masa lalu yang kaya serta potensi ekonomi yang terus bertumbuh pada masa depan adalah kombinasi yang menarik,”katanya. Adapun alasan Cardin mengubah arah desainnya dari busana ke bidang arsitektur,dijelaskan Cardin,karena menurutnya kemewahan bukan semata-mata ditujukan bagi kalangan tertentu. ”Bagi saya,kemewahan bukan hanya untuk orang kaya atau kalangan istimewa,tapi juga bagi masyarakat luas,”sebutnya.

Pada Mei 2011 Cardin mengumumkan siap menjual kerajaan bisnisnya, dengan syarat dia masih memegang kontrol sebagai direktur artistik. Cardin mematok harga 1 miliar euro untuk perusahaannya. Saat ini dia masih mencari buyer potensial.
 
”Saya menjual perusahaan bukan karena ingin menyingkirkan apa yang sudah saya bangun, tapi justru untuk mempertahankannya,” tutur Cardin.
 
Sementara,posisi direktur artistik yang ingin terus dipertahankannya, ujar Cardin, dilakukan untuk menolong pembeli perusahaannya kelak.

”Karena saya mencintai apa yang saya kerjakan dan saya akan terus mengerjakannya sampai saya mati,” tuturnya.

(Tuty Ocktaviany)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement