INDUSTRI busana muslim di Tanah Air sedang naik daun. Indonesia pun tengah sibuk mewujudkan misi sebagai kiblat fesyen busana muslim dunia. Namun, untuk mencapai tujuan tersebut, banyak pekerjaan rumah (PR) yang harus dikerjakan.
"Siapkan 'tujuh M', jangan hanya bermimpi untuk menjadi kiblat fesyen busana muslim dunia. Tujuh M tersebut ialah Market (pasar), Manajemen, Man (sumber daya manusia alias para desainer), Machine (mesin memadai), Material, Manajemen Sistem Informasi, dan Money (uang)," kata Eka Shanty, Executive Director of Indonesia Islamic Fashion Consortium (IIFC) saat ditemui di malam final 'Muslimah Beauty' di Ballroom, Grand Sahid Jaya, Selasa (13/9/2011).
Selain mesin yang memadai, para desainer perlu meningkatkan manajemen sistem informasi.
"Saat poin satu hingga enam sudah dijalani, maka poin terakhir akan datang dengan sendirinya," tandasnya.
Memiliki populasi yang banyak, bukan tak mungkin jika pencapaian tersebut bisa diwujudkan.
"Dengan populasi masyarakat Indonesia yang berjumlah 200 juta, bukan tak mungkin jika busana muslim bisa terjual sebanyak total 200 juta dalam setahun," jelas Eka.
Agar semakin memudahkan pelaku industri busana muslim mencapai tujuan tersebut, maka IIFC bekerja sama dengan APPMI.
"Selain itu, tidak semua industri busana muslim memiliki manajemen yang baik. Maka perlu kerja sama dengan asosiasi perancang mode agar industri busana mode bisa melahirkan desainer sekelas Milan, Paris atau New York," tutupnya.
(Chaerunnisa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.