Koleksi lulusan Esmod (Foto: Runi/Okezone)
DALAM dunia seni, apapun bebas dikreasikan. Aliran ide liar yang berkecamuk coba dituangkan dalam kreasi busana yang menjembatani antara mimpi, kreativitas, dan sisi pasar. Alumnus Esmod Jakarta berusaha menjawab tantangan tersebut.
Sebagai desainer, keragaman ide, dan kreativitas memang mengalir dengan deras setiap waktu. Selalu ada ide-ide segar yang ingin diwujudkan dalam rangkaian busana yang hendak ditawarkan pada pasar.
Siswa lulusan Esmod pun demikian. Mereka yang telah menempuh masa studi dengan jenjang Diploma dan lulus pun mulai menapaki etape sesungguhnya. Setelah ditempa dengan teori selama 3 tahun, mereka kemudian dengan bebas mengkreasikan idealismenya di luar sana. Kebebasan serta keliaran ide yang eksperimental sekalipun mulai diejawantahkan dalam potongan busana yang mereka ciptakan. Sisi idealisme yang masih meletup-letup pun terlihat mendominasi para desainer yang baru menapaki karier di dunia mode tersebut.
Hal itu dapat terlihat dalam pergelaran Esmod Fashion Festival 2011 yang diselenggarakan di Pacific Place selama empat hari. Di hari ketiga, Rabu (22/6) kemarin, ketiga alumnus sekolah mode internasional, yakni Albert Yanuar, Hian Tjen, dan Imelda Kartini menyuguhkan kreativitas segar dalam busana yang dipamerkan.
Albert, misalnya. Jebolan Esmod tahun 2003 ini mengusung tema “Floreal”. Sesuai temanya, kehadiran busana yang ditampilkan pun sangat feminin.
"Saya menawarkan banyak volume lewat tampilan bunga-bunga dalam rok dan gaun yang saya ciptakan," ujar Albert dalam sesi konferensi pers yang digelar di Pacific Place, Jakarta, Rabu (22/6/2011).
Menariknya, Albert yang malam itu membawakan 10 koleksi menampilkan sisi kreativitas yang sangat unik. Sisi multifungsi dari busana coba ditawarkan Albert lewat penampilan rok yang bisa diubah menjadi jaket.
"Saya ingin ‘customer’ bisa mendapatkan tiga bentuk yang berbeda untuk membuat koleksi lebih hidup selain tentunya melengkapi faktor efisiensi," sambungnya.
Desainer lainnya yang turut ambil bagian malam itu adalah Hian Tjen yang menyuguhkan tema “The Cornucopia”. Lulusan Esmod tahun 2003 ini menerjemahkan mimpinya yang mengeksplorasi seorang gadis kecil yang selalu bermimpi tentang perjamuan pesta kecil di tengah hutan yang dihadiri makhluk-makhluk cantik bertanduk, di mana semua yang hadir mengenakan gaun pesta glamor dengan detail indah dan “they are not really human”.
"Zaman dulu itu tanduk bagi para bangsawan digunakan untuk menyimpan barang berharga. Dan saya menuangkannya dalam inspirasi busana dengan latar zaman kebesaran tersebut," ujar Hian.
Hian menuturkan, pada 10
outfit yang dibawakannya malam itu menyuguhkan karakter
edgy dan
couture sehingga ada busana yang memang bisa dikenakan dan juga tidak. Malam tersebut, potongan
dress dengan volume dan tempelan bunga-bunga menyuguhkan nuansa berbeda dalam busana berwarna cokelat, logam, dan tembaga yang diciptakan Hian.
Tak mau kalah, kreasi sensasional pun ditunjukkan Imelda Kartini. Lulusan Esmod terbaik tahun
2007 ini menawarkan busana glamor dan klasik dengan potongan tak biasa. Imelda yang mengusung tema “Evangelist”, yakni pengejawantahan dari simbolik 4 penginjil (pelindung Tuhan). Wanita selalu mempunyai dua sisi kepribadian dimana sering kali bergaya feminin tapi ingin memberontak dan mengeluarkan sedikit karakter kuat dalam diri kita. Perpaduan ide itu pun dituangkan Imelda dalam warna, bahan, dan aksesori busananya.
Malam itu, Imelda menyajikan gaun malam yang dikreasikan dengan “creative fabric”. Warna
dusty bold dan warna cerah seperti
pink, hijau, coklat, putih menjadi pilihan Imelda dalam kreasinya. Imelda menerjemahkan 4 pelindung Tuhan itu dalam potongan dress panjang bervolume di bagian bawah serta pemakaian sayap besar bak bidadari. Para pengunjung yang memadati ruang tersebut seakan diajak ke sebuah dunia dongeng yang penuh dengan peri-peri cantik bersayap besar dan siap memberikan pertolongannya bagi kita.
"Busana saya malam ini memang lebih ‘semicouture’ sehingga hanya bisa dipakai oleh wanita tertentu saja. Saya membawakan ciri khas saya yang lebih detail, tidak simpel, dan banyak menggunakan ‘handmade’ dalam aplikasi busana," tutur Imelda.
Ya, para desainer muda ini memang sedang mempertunjukkan gairah desain mereka yang membuncah. Tak heran, sisi idealisme yang tertuang dalam kreativitas tingkat tinggi pun dihadirkan. Meski demikian, ketiganya sepakat mengakui bahwa saat menjamu klien, sisi idealis mereka tetap bermain namun tidak terlalu mendominasi.
"Kami tetap memerlihatkan imej karakter desain sebagai ciri khas namun tetap mengedepankan keinginan klien sebagai market utama kami," tutup mereka.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.