Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Nuniek Mawardi, Nostalgia Mitos Yunani Kuno

Koran SI , Jurnalis-Jum'at, 01 Mei 2009 |13:22 WIB
Nuniek Mawardi, Nostalgia Mitos Yunani Kuno
Nuniek Mawardi/APPMI
A
A
A

BERUSAHA mengangkat kembali kejayaan teknik handmadedan citra tradisional Indonesia, Nuniek Mawardi menghadirkan Pre-Raphaelite. Sebuah nostalgia akan mitos Yunani Kuno yang dipadu teknik smock, patchwork, dan furrowing.

Hasilnya? Tentu saja koleksi busana muslim glamor yang sarat sentuhan artistik khas Nuniek Mawardi. Desainer asal Bandung tersebut memang terkenal selalu menampilkan gaya unik pada setiap koleksinya. Sebut saja perpaduan gaya Mesir dan tenun ikat Nusa Tenggara Timur yang ternyata memiliki kesamaan karakter. Kali ini untuk koleksi terbarunya sepanjang 2009, Nuniek mengeluarkan seri busana yang terinspirasi mitos Yunani kuno, saat peradaban manusia mencapai kemajuan gemilang.

Rangkaian busana tersebut diperlihatkannya pada pergelaran Adi Kriya Sulam Indonesia, sebuah pameran yang dihadirkan untuk mendekatkan masyarakat Indonesia pada kekayaan budaya bangsa. Terutama melalui seni sulam yang telah lekat dengan masyarakat Indonesia.

"Saya berusaha menelisik kembali era 1860-1880, era yang menjadi awal perkembangan pesat peradaban manusia berkat teknologi," kata desainer yang selalu tampil anggun tersebut. Tema Pre-Raphaelite sendiri disarikan Nuniek dari sebuah aliran seni Pre-Raphaelite Brotherhood yang berusaha mencari jawaban dalam imajinasi nostalgia, kembali ke mitos dan legenda Yunani Kuno.

Mitos dan nostalgia tersebut kemudian diwujudkan Nuniek dalam koleksi yang menggabungkan gaya Victorian dengan gaya Yunani Kuno. Tertuang dalam gaun chiffon dengan sentuhan draperi dan pleats, terinspirasi dari gelembung khiton dan balutan himation yang merepresentasikan keanggunan dewi-dewi Yunani Kuno. Sebagai aksen pemanis, Nuniek menyandingkan garis desain Yunani tersebut dengan coat tailored ala Victorian, lekuk-lekuk khas ala Polonaise dan gelembung lengan nan unik. Paduan feminin dan maskulin yang ditata apik, yang menjadi ciri khas Nuniek Mawardi.

Uniknya, Nuniek mengatakan bahwa koleksi busana muslim yang ditujukan untuk para muslimah tersebut sebenarnya diadaptasi dari busana pria Yunani.

"Jadi sebenarnya itu diadaptasi dari klamis, baju luaran untuk pria, bentuknya seperti cape yang disatukan di pundak dengan menggunakan bros," paparnya.

Namun, tentu bukan hanya itu yang disajikan perancang yang berada di bawah naungan Asosiasi Perancang Pengusaha Mode Indonesia (APPMI) tersebut. Seperti biasa, Nuniek dengan piawai menyelipkan detail secara aplikatif pada koleksinya. Termasuk permainan teknik patchwork, furrowing (serut), serta smock, yang menjadikan desainnya tidak hanya terlihat anggun, juga apik.
Menyesuaikan dengan tema pergelaran yang mengetengahkan kreasi seni sulam, maka Nuniek pun menjadikan smock sebagai titik berat rancangannya. "Smock itu juga sebenarnya salah satu teknik sulam karena menggunakan benang, jarum, dan harus dikerjakan dengan tangan dan membutuhkan pola tertentu," kata pemilik label Nuniek Rosa, Beau, dan Al Madina ini.

Selain itu, menurut wanita kelahiran Bojonegoro, tahun 1961 ini, menerapkan teknik smock pada bahan sehalus dan selembut chiffon membutuhkan ketelatenan tersendiri. "Smock itu membutuhkan banyak bahan, kira-kira dua kali lipatnya, dan harus dipola untuk mendapatkan hasil yang benar-benar rapi, tidak bisa asal saja. Makanya, saya membutuhkan waktu dua minggu hanya untuk menyelesaikan smock-nya saja," sebut Nuniek.

Adapun smock digunakan alumnus Universitas Pasundan Bandung ini untuk menghadirkan tekstur yang berbeda pada koleksinya.

"Daripada saya menggunakan payet atau manikmanik, saya lebih suka memanipulasi kain dan menghadirkan cutting berbeda," ujar desainer yang banyak menghadirkan bentukan busana khasYunani seperti girdle, tunika, dan diplodion tersebut. Dari segi warna, Nuniek memilih palet lembut seperti halnya gading, putih, dan warna nude yang mengimajinasikan nuansa Yunani Kuno. Sementara, keberadaan detail sulaman mempresentasikan kekayaan detail yang menjadi ciri khas aliran seni Pre-Raphaelite Brotherhood, yang juga muncul dalam seni Yunani periode Arkais.

Satu hal yang tidak pernah berubah dari Nuniek, kendati kerap melakukan perkawinan bentuk dari berbagai budaya, koleksinya jarang memiliki napas feminin yang total, malah kemudian dikemas dalam garis-garis tegas, nyaris maskulin.

"Pelanggan saya bukan tipe yang terlalu feminin, mereka menyukai busana yang memiliki paduan unsur maskulin atau karakter androginy. Karenanya, saya banyak menggunakan garis dan potongan yang tegas," papar Nuniek.

Feminin memang bukan menjadi napas utama rancangan Nuniek. Kendati demikian, koleksinya tetap berkesan anggun sekaligus kontemporer. Ini pun dilakukannya demi memberikan gaya busana muslim modern, wearable, tetapi sesuai dengan syariah islami.

(Tuty Ocktaviany)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement