DENGAN moto sederhana "jika orang lain bisa, kenapa saya enggak", Raizal Rais sukses mengukir namanya sebagai desainer kenamaan Indonesia.
Bakat seni sudah melekat pada dirinya sejak kecil, kecuali seni suara. Dunia panggung sudah diakrabi pria kelahiran 4 Juni 1957 ini sejak di bangku sekolah menengah. Buyung, begitulah desainer ini akrab disapa, pernah merancang sebuah fashion show ala kadarnya dengan busana modifikasi kain sarung, diperagakan adik-adiknya, dan ditonton para tetangga di sekitar rumah tinggalnya.
Selain mendandani orang, ternyata anak keempat dari sepuluh bersaudara ini juga menaruh minat pada bidang tata rambut. "Waktu SMA, saya belajar salon, enggak ada yang tahu! Lepas SMA, saya ke Paris, rencananya untuk sekolah arsitek, tapi saya sempat ambil sekolah rambut," tutur putra dari pasangan H Rais Taing dan Rosma ini.
Selama berada di Paris, Buyung banyak bergaul dengan para tokoh mode, satu di antaranya Poppy Dharsono. Otomatis Buyung terbawa untuk kembali mengenal mode, menelaah tren, tanpa kehilangan jati dirinya sebagai putra Minang. Kelak sebagai desainer, Buyung dikenal giat dalam memperkaya khazanah busana daerah maupun pemakaian kriya busana asli Indonesia.
Sekembalinya ke Jakarta, Buyung tidak lantas menerapkan ilmu tata rambutnya. "Karena ibu saya business woman, saya bantu ibu sambil kuliah lagi, ambil akuntansi di Universitas Jayabaya," tutur pria ramah ini.
Tiga tahun mengurusi anak perusahaan sang ibu, akhirnya Buyung dilepas juga. Ibundanya sangat mendukung untuk buka bisnis busana garmen.
"Tapi jiwa saya pada perancang," cetusnya. Sadar bahwa dasar pendidikan formal modenya nol, Buyung sempat ikut belajar mode di sekolah Cita Yunus. Di situ dia mendapatkan ilmu tentang sketsa, konsep desain, bahkan proses mencari ide. Hidupnya kian terisi dan bergairah.
"Masuk ke dunia fashion untuk saya adalah jalan hidup. Kalau mau jadi bussines man, gampang, usaha ibu saya banyak. Tapi jiwa saya lebih suka ke seni," sebutnya. Bukan berarti dia lantas mengabaikan keinginan ibunya untuk menjadi seorang pebisnis. "Tapi saya pilih mengabdi dulu sama ibu," ucapnya dengan mata berbinar.
Beberapa tahun berikutnya, barulah Buyung mulai serius mengelola label fashion miliknya. Dia banyak mengerjakan modifikasi busana pengantin tradisional. Darah Minang mengalir deras, dan kecintaannya pada daerah asal tidak pernah surut. Rumah gadang, pelaminan, warna-warna khas Minang adalah inspirasi tak berbatas baginya. Perjalanan kariernya di dunia mode tak lepas dari nama beberapa desainer kenamaan lainnya seperti Samuel Wattimena dan Adjie Notonegoro.
Dalam menjalani hidup dan karier, Buyung tidak ngoyo. Moto hidupnya sederhana, tetapi begitu mengena. "Jika orang lain bisa,kenapa saya enggak? Itulah kenapa saya selalu ingin tahu, gemar bereksperimen bahan yang sulit saya coba ke busana," celoteh pria yang biasa disapa Papi oleh rekan-rekan desainer muda.
Busana milik Buyung biasa dikonsumsi kalangan tertentu karena harganya yang cukup mahal. Tak heran, pasalnya dia selalu ingin menggunakan bahan terbaik. Tidak terlampau gusar dengan harga. Kelak sebuah busana dengan bahan dan pola yang baik akan memberikan tampilan yang lebih baik bagi pemakainya. Dia pun tidak sepi order.
Tak mudah memang menjadi perancang pada periode tahun 1970 sampai 1980-an, profesi desainer belum terlalu dilirik. Buyung adalah satu dari beberapa nama yang mengisi section "Garis-garis Indonesia" di Pasaraya. Baru setelah tahun 1980, desainer banyak bermunculan di mana-mana. Terlebih karena adanya ajang lomba rancang busana. Masyarakat kian melek mode.
(Tuty Ocktaviany)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.