Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Belfast, Berkaca di Tembok Konflik

SINDO , Jurnalis-Minggu, 30 Desember 2007 |13:36 WIB
Belfast, Berkaca di Tembok Konflik
A
A
A

NASI lemak siang itu lebih nikmat dibanding di Malaysia sekalipun. Meski uba rampenya tak lengkap, menyantapnya nun jauh di Belfast, Irlandia Utara, memberikan rasa berbeda.

Restoran Istana Malaysia itu berada tepat di jantung Kota Belfast, tepatnya di jalan menuju kawasan Queen University of Belfast. Pelayan restoran terperangah ketika aku utarakan keinginan melihat mural, gambar dinding di Shankill Road dan Falls Road.

Dengan bahasa Melayu yang fasih, dia memintaku membatalkan bepergian ke dua kawasan "bergolak" tersebut. Aku menanyai pegawai hotel. Barangkali pelayan restoran tadi melarang karena solider sesama puak Melayu saja, tapi ternyata pegawai hotel pun bersikap serupa. Namun, tekadku sudah bulat, harus ke sana.

Kususuri jalan menuju pusat kota, mencari informasi lain. Lalu lalang jeep polisi berwarna putih dengan kaca dan lampu dikerangkeng seperti yang ada di film In the name of the Father, sedikit membenarkan larangan tadi. Apalagi, pengumuman yang terpajang di sejumlah toko bahwa toko bisa sewaktu-waktu tutup jika terjadi gangguan.

Akhirnya, aku memutuskan menggunakan bus khusus tur keliling kota, city sightseeing. Rute bus tingkat dengan atap terbuka itu mencakup historic tour, Titanic tour, dan political tour. Bagian terakhir inilah yang akan melewati mural dan dinding perdamaian, yang menandai kota ini pernah dilanda konflik berdarah.

Perjalanan pun bermula dengan historic tour. Balai kota dengan arsitektur Victorian menjadi titik awal karena berada tepat di tengah kota. Balai kota, Katedral, kastil, taman, juga tugu berisi jam menjadi jualan yang selalu ada di semua kota di Inggris.

Dengan gedung tua tersebut, mungkin mereka mau menunjukkan betapa tuanya mereka di bidang administrasi pemerintahan dan berdemokrasi, entahlah. Bus memutari menara Albert Memorial, menara persembahan untuk suami Ratu Victoria, dengan jam besar di puncaknya. Ini adalah salah satu penanda Kota Belfast, selain crane raksasa berlogo H&W, inisial dari perusahaan perkapalan Harland and Wolff.

Perusahaan inilah yang membuat kapal mewah Titanic. Di kompleks itu juga ada gedung besar, tempat H&W berkantor saat Titanic dikerjakan. Menurut hikayat, kaca gedungnya tidak pernah dibersihkan sejak Titanic tenggelam pada 1912. Di depannya berdiri Hall of Remembrance, semacam tugu yang dipenuhi karangan bunga, untuk mengenang korban Titanic.

Di tugu itu, terpatri 23 nama warga Belfast yang ikut tenggelam sebagai ABK Titanic. Kapal Titanic adalah kebanggaan warga Belfast dan menjadi simbol kemajuan mereka dalam industri. Tak heran, begitu kapal tenggelam, warga Belfast segera menyumbang untuk membangun The Belfast Titanic Memorial.

Ketika pemilik H&W menjadi wali kota Belfast, dia menyebut gedung balai kota, sebagai "lambang Titanic". Dan sejak 2002, setiap Maret diadakanlah festival Titanic, Made in Belfast, yang menjual replika kapal serta pertunjukan mengenang kejayaan Titanic. Hari semakin petang ketika bus akhirnya meluncur ke arah Shankill Road.

Pemandu wisata bercanda, menyebut perjalanan ini sebagai terror tour. Sebetulnya, jika melihat pusat kota, bandara, terminal, yakinlah kita bahwa konflik telah lama berakhir. Memang kawat berduri, portal, serta polisi bersenjata memberi aura bahwa kota ini tidak seramah kota-kota lain di Inggris.

Lalu, ada mural di mana-mana yang menandai bahwa kerusuhan dan kematian pernah menjadi hari-hari warga Belfast. Mural ada di pagar ujung jalan, juga di dinding rumah terluar dari sebuah deretan semacam kompleks. Foto Bobby Sands, aktivis IRA yang tewas di penjara pada 1981, dengan senyum lebar mencolok mata di beberapa tempat di Shankill Road.

Bobby adalah pahlawan kelompok Republik (Partai Sein Fein), yang memotori mogok makan hingga tewas karena menolak pemakaian seragam penjara. Pembuatan mural Bobby Sands membalik pesan mural yang sudah dikenal warga Belfast sejak 1908. Jika puluhan tahun sebelumnya mural adalah perayaan tahunan mengenang kesuksesan Raja William III menyatukan Irlandia Utara dengan Inggris Raya, sejak kematian Bobby Sands, mural menjadi bernilai politik.

Bahkan, mural bergambar Raja William, yang selalu diperbarui selama 70 tahun, berganti rupa menjadi wajah Michael Stone, aktivis Loyalist yang menembaki upacara pemakaman pihak Republik. Mural pun menjadi alat perekam perjalanan sejarah. Sarat pesan perlawanan, baik antara kelompok Republik dengan Loyalis, maupun antara gerilyawan IRA dengan tentara Inggris.

Mural menggantikan peran media yang didominasi keinginan London. Isi mural menggambarkan siapa yang menguasai daerah tempat mural berada. Shankill Road adalah kawasan Katolik, dan Falls Road dikuasai Loyalist berbasis Protestan. Kedua jalan itu dihubungkan beberapa jalan-jalan kecil yang bernuansa tempur gerilya.

Kedua kelompok bisa dengan mudah datang menyerang dan lari ke balik-balik rumah. Itulah yang mendorong pembangunan "garis damai" setinggi enam meter, meniru tembok Berlin, memisahkan dua kawasan tersebut. Tak hanya tembok yang kasatmata memisahkan, dulu anak-anak pun bersekolah sesuai agama dan garis politik.

Berbalik menuju titik awal keberangkatan, bus menyusuri Sungai Lagan, yang membelah Kota Belfast. Ini mengingatkanku akan Krueng Aceh, yang mengalir di tengah Kota Banda Aceh. Aku pernah meliput di sana ketika GAM berjaya dan saat Darurat Militer berlaku. Meski tak seperti Belfast, tradisi "berdebat" lewat tulisan juga pernah terjadi.

Posko TNI-Polri yang bertebaran di mana-mana, memuat pesan, ajakan kepada GAM untuk berdamai. Jika direvitalisasi, itu bisa menjadi mural yang menceritakan sebuah kisah pada masanya, media yang kuat mengekspresikan sebuah zaman. Tak hanya mural, Aceh punya banyak penanda zaman "susah" tersebut.

Ada Rumah Geudong di Glumpang Tiga, Pidie,yang dikabarkan sebagai tempat penyiksaan, juga ada Bukit Tengkorak di Bukit Ujong Salam, Lhok Seumawe, tempat penemuan tengkorak manusia yang telah lama menghilang. Di Menggamat Aceh Selatan, saat Darurat Militer 2003, ditemukan rumah penyiksaan, lapangan latihan militer, serta infrastruktur pemerintahan GAM.

Truk pengangkut aparat keamanan pun dimodifikasi, ketika digunakan di Aceh. Ini bisa menjadi political tour ala Aceh. Berat memang, menjadikan kenangan buruk sebagai artifak dokumentasi kehidupan.

Namun, tanpa itu pun, riwayat tak akan pernah lekang dikunyah gerigi waktu. Justru dari sinilah, banyak pelajaran bisa dipetik,agar tidak terjerembab ke jurang serupa. Buah manis dari konflik di Belfast adalah rumah sakit bedah dan kajian trauma konflik yang tersohor di Inggris Raya.

Banyak Jalan Menuju Belfast


BELFAST berada di pulau lain dari Inggris secara umum. Ibu kota Irlandia Utara itu bagian dari kepulauan Irlandia. Kecuali Irlandia Utara, bagian pulau lain merupakan bagian dari Republik Irlandia.

Karena berada di pulau, Belfast dapat dicapai dengan kapal. Jika ingin sekali jalan, datanglah dulu ke tanah Skotlandia, bumi yang indah dan sarat epik perjuangan. Jika mau murah, ambil promosi rail and sail. Tiket kapal tersambung dengan kereta api ke seluruh kota di Inggris.

Ada kapal, ada pula feri. Jadi, dari London bisa naik bus melewati Manchester dan Birmingham, lalu naik feri sampai ke Belfast. Jika mau mencoba naik mobil bisa juga, tapi ini menyulitkan. Sebab, sebagai kawasan konflik, harga sewa mahal karena tambahan biaya asuransi. Yang paling mudah tentu saja pesawat. Belfast punya dua bandara, George Best dan Belfast Internasional.

Sesuai namanya, Belfast Internasional melayani penerbangan antarnegara, seperti Belanda, Prancis, Italia. Sementara untuk penerbangan lokal, ada perusahaan penerbangan yang sering memberi harga promosi, seperti Ryan Air dan Flybe. Jika beruntung, harga tiketnya bisa lebih murah dari harga pajak.

(M Budi Santosa)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement