KEBERSIHAN pakaian dalam jadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Pasalnya, pakaian dalam langsung bersentuhan dengan area intim. Apabila tidak segera dibersihkan, pakaian dalam bisa menjadi tempat bakteri berkembang.
Konsultan laktasi, dr. Shane Tuty, menjelaskan sisa cairan tubuh yang menempel pada pakaian dalam dapat menjadi salah satu faktor yang memungkinkan bakteri berkembang biak. Ia juga mengingatkan untuk segera mencuci celana dalam kotor dan tidak membiarkannya selama berhari-hari.
Lewat unggahan di akun TikTok pribadinya, dr. Shane menyinggung penelitian yang menunjukkan bahwa jumlah bakteri pada kain dapat meningkat setelah sekitar delapan jam pada suhu ruang. Selain waktu penyimpanan, suhu air saat mencuci juga penting.
Gunakan air dengan suhu minimal 60 derajat Celsius agar bakteri pada kain dapat berkurang secara efektif. Namun, air keran yang digunakan untuk mencuci pakaian sehari-hari umumnya tidak mencapai suhu tersebut.
Meski demikian, keberadaan bakteri yang tersisa pada kain tidak serta-merta menyebabkan infeksi. Risiko tetap bergantung pada berbagai faktor, termasuk jenis bakteri, kondisi pakaian, serta kondisi kesehatan seseorang.
“Apakah bakteri-bakteri sisa itu bisa bikin infeksi? Belum tentu sih. Tapi kalau masih menyisakan banyak bakteri terus dipakai lagi, bakteri itu bisa mengganggu keseimbangan bakteri baik yang ada di daerah intim kita,” tutur dr. Shane.
dr. Shane menjelaskan bahwa gangguan keseimbangan bakteri pada sebagian perempuan berisiko iritasi, vaginosis bakterialis, hingga infeksi saluran kemih (ISK). Oleh sebab itu, menjaga kebersihan pakaian dalam menjadi salah satu langkah yang perlu diperhatikan dalam merawat kesehatan area intim.
(Djanti Virantika)