Berbeda dengan motif-motif yang berkembang di Jawa, Ulamsari Mas berasal dari Bali. Motif ini menampilkan gambaran hasil laut seperti ikan dan udang. Penggambaran tersebut tidak terlepas dari kehidupan masyarakat Bali yang memiliki hubungan erat dengan sumber daya laut.
Ulamsari Mas menjadi gambaran mengenai hasil alam dan mata pencaharian masyarakat pesisir. Karena itu, motif ini kerap dimaknai sebagai simbol kesejahteraan, kemakmuran, dan rasa syukur terhadap kekayaan alam.
Buketan berkembang di kawasan Pekalongan dan memiliki pengaruh budaya Eropa yang cukup kuat. Nama Buketan berasal dari istilah Belanda boeket, yang berarti buket atau rangkaian bunga.
Motif ini banyak menampilkan bunga dalam susunan yang indah dan berwarna-warni. Perkembangannya tidak terlepas dari pengaruh budaya Eropa pada masa kolonial yang kemudian berpadu dengan keterampilan membatik masyarakat Pekalongan.
Perpaduan tersebut menghasilkan karakter batik yang berbeda dari motif klasik keraton. Buketan menjadi salah satu contoh bagaimana batik terus berkembang melalui pertemuan berbagai budaya.
Lawang Sewu bukan hanya nama bangunan bersejarah yang menjadi ikon Kota Semarang. Nama tersebut juga digunakan sebagai salah satu motif batik yang terinspirasi dari bangunan tersebut.
Dalam bahasa Jawa, Lawang Sewu berarti "seribu pintu". Motifnya menggambarkan bentuk bangunan Lawang Sewu yang kemudian dipadukan dengan berbagai unsur alam seperti bunga, pohon, dan kupu-kupu.
Motif ini juga dikaitkan dengan sejarah perjuangan di Semarang pada masa revolusi kemerdekaan. Perpaduan unsur sejarah, bangunan, dan alam menjadikan Lawang Sewu sebagai salah satu motif batik yang memiliki karakter khas.
Beragam motif tersebut menunjukkan bahwa batik tidak sekadar memiliki nilai estetika. Di balik setiap pola terdapat cerita, filosofi, dan gambaran kehidupan masyarakat yang melahirkannya.
Mulai dari kisah cinta dalam motif Truntum, simbol kekuatan dalam Parang, keberagaman dalam Sekar Jagad, hingga gambaran kemakmuran dalam Ulamsari Mas, semuanya menjadi bagian dari kekayaan budaya Indonesia.
Batik Indonesia juga telah mendapatkan pengakuan internasional. Pada 2 Oktober 2009, UNESCO menetapkan batik Indonesia sebagai Warisan Budaya Takbenda untuk Kemanusiaan. Tanggal tersebut kemudian diperingati sebagai Hari Batik Nasional setiap 2 Oktober.
Memahami cerita di balik motif batik dapat menjadi salah satu cara untuk mengenal lebih dekat kekayaan budaya Indonesia sekaligus menjaga warisan tersebut agar tetap hidup dan berkembang di tengah perubahan zaman.
(Djanti Virantika)