JAKARTA — Paparan abu vulkanik dapat mengganggu saluran pernapasan, terutama jika partikel abu terhirup berulang kali dalam jumlah banyak. Kondisi tersebut dapat memicu reaksi alergi, gangguan pada saluran pernapasan bagian atas, hingga bronkitis pada kondisi yang lebih berat.
Dokter Tirta membagikan sejumlah langkah yang dapat dilakukan masyarakat untuk mengurangi risiko gangguan pernapasan akibat abu vulkanik. Ia juga mengingatkan warga yang berada di wilayah terdampak agar membatasi aktivitas di luar ruangan.
“Buat kawan-kawan yang tinggal di Jabodetabek, Jawa Barat sekitarnya yang terdampak abu vulkanik dari Gunung Anak Krakatau, ini saran dari saya,” ujar Dokter Tirta.
Berikut sejumlah tips yang disampaikan Dokter Tirta untuk mengurangi risiko sesak napas dan gangguan kesehatan akibat paparan abu vulkanik:
Masyarakat yang harus melakukan aktivitas di luar ruangan di wilayah terdampak abu vulkanik disarankan menggunakan masker. Bahkan ketika abu yang terlihat relatif tipis, perlindungan saluran pernapasan tetap diperlukan.
Menurut Dokter Tirta, abu vulkanik yang terlalu sering terhirup dapat masuk ke saluran pernapasan dan memicu reaksi alergi serta gangguan pada saluran pernapasan bagian atas.