Dalam bahasa Sansekerta, pengucapannya adalah Brama. Seiring berjalannya waktu, dialek masyarakat Jawa Timur menyesuaikan sebutan tersebut hingga akhirnya lebih akrab disapa dengan sebutan Bromo.
Kawasan Bromo adalah tempat tinggal bagi penduduk aslinya, yaitu Suku Tengger. Nama Tengger diambil dari gabungan nama dua tokoh legenda setempat, yaitu Roro Anteng dan Joko Seger.
Menurut cerita rakyat, Roro Anteng dan Joko Seger merupakan pasangan yang saling mencintai. Saat Roro Anteng dilamar oleh pria lain yang tidak ia sukai, ia memberikan syarat yang sangat sulit: membuatkan lautan di tengah gunung dalam waktu singkat. Roro Anteng kemudian membuat siasat agar usaha pria tersebut gagal.
Setelah berhasil, ia menikah dengan Joko Seger dan membangun permukiman bernama Purbawasesa Mangkurat Ing Tengger. Sampai saat ini, keturunan Suku Tengger tetap bermukim dan menggantungkan hidup di kawasan tersebut.
Meski ramai dikunjungi wisatawan, Gunung Bromo sebenarnya adalah gunung berapi aktif. Erupsi terakhirnya tercatat pada 2016, dan hingga kini masih kerap mengalami fluktuasi aktivitas vulkanik.