Lebih lanjut, dr. Aditya mengungkapkan bahwa dampak paling berbahaya dari kebiasaan mendiagnosis diri melalui AI adalah efek psikologis yang ditimbulkan. Jawaban yang kurang tepat dapat membuat seseorang menunda pemeriksaan medis yang sebenarnya penting atau justru mengalami cyberchondria, yaitu kecemasan berlebihan akibat mencari diagnosis penyakit sendiri melalui internet.
"Dampaknya ada dua. Pertama, kita bisa panik berlebihan terhadap penyakit yang sebenarnya ringan. Kedua, yang lebih berbahaya, kita justru merasa tenang karena AI mengatakan hanya kelelahan, padahal tubuh sedang memberikan sinyal kondisi darurat yang membutuhkan penanganan dokter saat itu juga," ujarnya.
Karena itu, dr. Aditya mengingatkan agar AI digunakan sebagai sumber informasi awal, bukan sebagai dasar untuk menegakkan diagnosis medis. Jika mengalami keluhan kesehatan, masyarakat tetap disarankan berkonsultasi langsung dengan tenaga medis agar mendapatkan pemeriksaan dan penanganan yang tepat.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)