JAKARTA - Seiring bertambahnya usia, tubuh mengalami berbagai perubahan, mulai dari rambut yang memutih, kulit yang kehilangan elastisitas, hingga penurunan stamina. Tak hanya itu, perubahan juga dapat terjadi pada organ intim pria, termasuk ukuran, bentuk, dan fungsinya.
Meski begitu, perubahan pada penis bukan berarti sesuatu yang pasti akan dialami semua pria atau selalu menandakan masalah serius. Para ahli menilai, perubahan tersebut justru bisa menjadi indikator kondisi kesehatan tubuh secara keseluruhan, terutama kesehatan pembuluh darah dan hormon.
Ahli urologi dari MedStar Health, Dr. Ryan Cleary, menjelaskan bahwa perubahan fungsi penis dapat menjadi tanda awal adanya gangguan kesehatan, seperti penyakit jantung atau stroke.
"Perubahan pada penis seiring waktu sebaiknya dipandang sebagai barometer kesehatan secara keseluruhan," ujarnya dilansir dari Mens Health.
Karena itu, menjaga pola makan sehat, rutin berolahraga, mengelola stres, dan tidur yang cukup menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan seksual sekaligus mencegah berbagai penyakit kronis.
1. Kulit skrotum menjadi lebih kendur
Produksi kolagen akan menurun seiring bertambahnya usia sehingga elastisitas kulit ikut berkurang. Kondisi ini membuat kulit skrotum atau kantung testis menjadi lebih kendur.
Selain faktor usia, kebiasaan merokok, pola makan yang buruk, hingga kurangnya aktivitas fisik juga dapat mempercepat proses tersebut.
2. Penis tampak lebih pendek
Sebagian pria merasa ukuran penisnya mengecil ketika memasuki usia lanjut. Kondisi ini biasanya bukan disebabkan oleh penyusutan yang signifikan, melainkan karena penumpukan lemak di area pangkal penis sehingga sebagian batang penis tampak "tersembunyi".
Menurunkan berat badan dan menjaga komposisi tubuh dapat membantu membuat penis terlihat lebih panjang.
3. Penis dapat mengalami kelengkungan
Seiring waktu, jaringan parut akibat trauma ringan yang berulang, termasuk saat berhubungan seksual atau berolahraga, dapat menumpuk dan menyebabkan penis melengkung. Kondisi ini dikenal sebagai penyakit Peyronie.
Jika kelengkungan semakin parah, menimbulkan nyeri, atau mengganggu aktivitas seksual, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
4. Kulup menjadi lebih sempit
Pada pria yang tidak disunat, bertambahnya usia dapat meningkatkan risiko fimosis, yaitu kondisi ketika kulup sulit ditarik ke belakang karena terlalu ketat.
Fimosis dapat menyebabkan nyeri saat buang air kecil maupun ketika ereksi. Penanganannya dapat berupa pemberian krim steroid hingga tindakan sunat, tergantung tingkat keparahan.
5. Risiko disfungsi ereksi meningkat
Disfungsi ereksi menjadi salah satu masalah seksual yang paling sering dialami pria seiring bertambahnya usia. Penyebab utamanya adalah berkurangnya aliran darah ke penis akibat gangguan pembuluh darah, diabetes, tekanan darah tinggi, maupun faktor hormonal.
Kondisi ini dapat ditangani melalui perubahan gaya hidup, obat-obatan, terapi vakum, suntikan, hingga pemasangan implan penis sesuai rekomendasi dokter.
6. Risiko kanker penis ikut meningkat
Meski tergolong jarang, risiko kanker penis meningkat pada usia lanjut. Kebersihan organ intim yang kurang baik, infeksi tertentu, hingga paparan sinar ultraviolet berlebihan dapat meningkatkan risikonya.
Karena itu, pria dianjurkan rutin memperhatikan kondisi kulit penis. Bila muncul benjolan, luka yang tidak kunjung sembuh, atau perubahan warna kulit, segera lakukan pemeriksaan ke dokter.
Sebagian besar perubahan pada penis merupakan bagian dari proses penuaan yang normal. Namun, apabila perubahan tersebut disertai nyeri, gangguan ereksi yang menetap, kelengkungan yang semakin berat, atau muncul benjolan maupun luka, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter spesialis urologi.
Menjaga berat badan ideal, rutin berolahraga, mengonsumsi makanan bergizi, tidak merokok, serta tidur yang cukup tetap menjadi cara terbaik untuk menjaga kesehatan penis sekaligus kesehatan tubuh secara menyeluruh hingga usia lanjut.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)