MUSIK bagi kebanyakan orang hanya bisa didengar. Namun bagi sebagian kecil orang di dunia, musik juga dapat terlihat dalam bentuk warna, pola, atau tekstur tertentu. Fenomena unik ini dikenal sebagai sinestesia.
Penyanyi pop muda Olivia Rodrigo menjadi salah satu figur publik yang mengaku memiliki kondisi tersebut. Dalam sebuah wawancara dengan Vogue pada 2022, pelantun "Drivers License" itu mengungkapkan bahwa dirinya memiliki apa yang ia sebut sebagai baby synesthesia atau bentuk ringan dari sinestesia.
Dilansir dari iHeart, sinestesia adalah kondisi neurologis yang membuat rangsangan pada satu indra memicu pengalaman pada indra lain secara otomatis. Salah satu bentuk yang paling umum adalah kemampuan melihat warna ketika mendengar suara atau musik.
Menurut American Psychological Association, penelitian menunjukkan sekitar satu dari 2.000 orang memiliki sinestesia, meskipun beberapa ahli memperkirakan jumlahnya bisa lebih tinggi dengan variasi gejala yang berbeda-beda.
Bagi penderita sinestesia, pengalaman tersebut bukanlah imajinasi atau halusinasi. Warna atau sensasi yang muncul biasanya konsisten dan terjadi secara otomatis setiap kali mereka mendengar suara tertentu.
Olivia Rodrigo mengungkapkan bahwa banyak lagu dalam album debutnya, SOUR, memiliki warna tertentu di benaknya. Menurutnya, lagu "drivers license" berwarna ungu. Sementara "good 4 u" memiliki nuansa ungu kebiruan. Lagu "jealousy, jealousy" terlihat merah terang, sedangkan "deja vu" memadukan warna oranye, merah muda, dan ungu pastel.
Olivia Rodrigo bahkan mengaku sengaja menjadikan warna ungu sebagai identitas visual era SOUR. Sebab, warna tersebut paling sering muncul ketika ia memikirkan album tersebut.
Olivia bukan satu-satunya bintang pop yang memiliki sinestesia. Penyanyi pemenang Grammy, Billie Eilish, juga pernah berbicara secara terbuka mengenai kondisi yang dialaminya.
Billie mengungkapkan bahwa sinestesia memengaruhi hampir seluruh aspek kehidupannya, mulai dari musik hingga pilihan fashion. Ia bahkan mengatakan bahwa setiap karya yang dibuat harus terasa seperti aroma tertentu.
Menurut Billie, hubungan antara suara, warna, bentuk, dan aroma sangat kuat sehingga ikut memengaruhi proses kreatifnya saat menciptakan musik maupun menentukan konsep visual.
Hingga kini, para peneliti masih mempelajari penyebab pasti sinestesia. Banyak ahli menduga kondisi ini terjadi karena adanya koneksi yang lebih kuat antara area-area sensorik tertentu di otak.
Meski terdengar tidak biasa, sinestesia bukanlah gangguan kesehatan mental dan umumnya tidak memerlukan pengobatan. Sebaliknya, banyak orang yang mengalaminya menganggap kondisi tersebut sebagai keunikan yang membantu kreativitas mereka.
Tidak sedikit seniman, musisi, penulis, hingga ilmuwan yang diketahui memiliki sinestesia dan memanfaatkan cara persepsi unik tersebut dalam pekerjaan mereka. Fenomena ini menjadi pengingat bahwa otak manusia masih menyimpan banyak misteri menarik yang terus dipelajari hingga saat ini.
(Djanti Virantika)