JAKARTA - Sering kali, ketika melihat berita atau mendengar cerita tentang kekerasan dalam hubungan, baik itu dalam rumah tangga maupun masa pacaran, pertanyaan yang paling cepat meluncur dari mulut masyarakat adalah "kalau sudah disakiti, kenapa tak langsung pergi saja?
Kasus penyekapan yang dialami seorang perempuan asal Rancaekek, Kabupaten Bandung, yang dilakukan oleh pacarnya mencuri perhatian publik, sehingga muncul pertanyaan tersebut dari netizen. Dari luar, solusinya memang terdengar sangat sederhana. Namun, bagi perempuan yang berada di dalam pusaran kekerasan tersebut, menemukan jalan keluar sering kali terasa seperti mencari pintu di ruangan gelap yang terus berputar.
Untuk memahami lebih dalam mengenai fenomena ini, ternyata ada alasan mengapa perempuan sering kali kesulitan melepaskan diri dari jerat kekerasan.
Pelaku biasanya punya pola yang berubah-ubah, sebentar kasar, sebentar kemudian sangat penyayang (love bombing). Perubahan drastis ini bikin kecanduan secara psikologis. Korban jadi selalu menunggu-nunggu momen "manis" setelah badai kekerasan lewat.
Pelaku sengaja menjauhkan korban dari teman dan keluarga. Tanpa adanya dukungan dari luar, korban jadi kehilangan tempat cerita dan akhirnya cuma bisa memercayai pelaku, seburuk apa pun itu.
Karena terus-menerus disalahkan dan dimanipulasi, korban akhirnya mulai menyalahkan diri sendiri. Mereka merasa tidak berguna dan berpikir bahwa merekalah sumber masalahnya.
Sering kali, pelaku juga membatasi korban untuk bekerja atau memegang uang. Tanpa modal atau tabungan sendiri, korban jadi bingung bagaimana cara menyambung hidup jika harus pergi.
Faktanya, momen saat memutuskan pergi justru menjadi waktu yang paling berbahaya. Pelaku sering mengancam akan bunuh diri, atau menyakiti anak-anak dan hewan peliharaan. Ancaman ini bikin korban merasa takut dan lumpuh untuk melangkah keluar.
Jangan pernah bertanya, “Kenapa kamu nggak pergi?” karena kalimat itu terdengar menghakimi. Gantilah dengan, “Aku ada di sini untukmu, apa yang bisa aku bantu agar kamu merasa aman?” Validasi perasaan mereka dan berikan ruang yang aman tanpa penghakiman.
Melepaskan diri dari kekerasan butuh waktu, keberanian yang luar biasa, dan dukungan sistem yang kuat. Jika kamu atau orang terdekatmu sedang berada dalam situasi ini, ingatlah bahwa kamu tidak sendirian dan pertolongan selalu tersedia. Kumpulkan dukungan dari orang terpercaya atau lembaga bantuan hukum dan pendampingan perempuan terdekat ketika kamu sudah merasa siap.
(Agustina Wulandari )