JAKARTA - Coconut milk atau yang di Indonesia populer dengan sebutan santan, merupakan cairan kental berwarna putih susu. Cairan ini diperoleh dari hasil ekstraksi atau perasan daging kelapa tua yang telah diparut dan dicampur dengan sedikit air.
Santan menjadi bahan dasar yang sangat penting dalam kekayaan kuliner tradisional, khususnya di wilayah Asia Tenggara termasuk Indonesia, karena mampu memberikan aroma gurih serta tekstur yang kental pada berbagai masakan.
Namun, masyarakat sering mengira bahwa coconut milk tidak sehat. Dokter Gizi Klinik Maggie, Sp.GK menjelaskan lewat Instagram pribadinya, meskipun sama-sama dari kelapa, coconut milk, coconut oil, dan daging kelapa itu beda komposisi nutrisinya.
“Kelapa ini pada dasarnya tinggi lemak jenuh, makanya dari dulu santan sering dianggap nggak sehat untuk kesehatan jantung atau kolesterol. Tapi sekarang buktinya lebih kompleks, karena sebagian besar lemak pada kelapa berupa medium chain triglycerides yang di tubuh kita metabolismenya beda dengan long chain triglycerides,” ujarnya.
Long chain triglycerides merupakan jenis lemak yang lebih umum ditemukan pada berbagai makanan, seperti daging, produk susu, dan minyak goreng. Jadi cenderung lebih cepat dipakai menjadi energi.
“Dan dalam coconut milk sebenarnya masih ada sedikit protein, sedikit serat, dan beberapa komponen bioaktif lain. Jadi profile nutrisinya nggak sama dengan coconut oil, tapi juga tidak sepekat daging kelapa utuh,” kata dr. Maggie.
Beberapa studi baru-baru ini mengungkapkan, lanjutnya, mengonsumsi coconut milk dalam jumlah tertentu bisa memberikan efek netral atau bahkan memperbaiki kolesterol darah. “Dan sampai sekarang, guideline kesehatan jantung internasional juga tetap menyarankan agar konsumsi lemak jenuh itu tidak tidak berlebihan,” tuturnya.
Menurutnya, tak ada makanan yang sepenuhnya jahat atau baik, yang paling penting adalah tetap memperhatikan overall pola makan sehari-hari. “Kalau sehari-hari kamu sering mengonsumsi daging merah, gorengan, apalagi UPF, menurutku sebaiknya coconut milk tetap dibatasi saja. Lalu, jika asupan protein sehari-harimu kurang, sebaiknya pilih susu yang tinggi protein, misalnya susu sapi atau susu soya,” ucapnya.
(Agustina Wulandari )