Ilustrasi mouth breathing pada anak. (Foto: dok Freepik)
JAKARTA - Mouth Breathing adalah kondisi ketika seseorang secara sadar maupun tidak sadar menggunakan mulut sebagai jalur utama untuk menghirup dan mengembuskan udara.
Pada kondisi normal (seperti saat sedang berolahraga berat atau saat hidung tersumbat karena flu), bernapas lewat mulut adalah hal yang wajar. Namun, jika kebiasaan ini terjadi setiap saat, terutama ketika tidur, hal tersebut menandakan adanya gangguan pada jalur pernapasan hidung.
Dampak Mouth Breathing bagi Kesehatan
Melansir Cleveland Clinic, Hidung dilengkapi dengan rambut-rambut halus (cilia) dan lendir yang berfungsi menyaring bakteri, melembapkan, serta menghangatkan udara sebelum masuk ke paru-paru. Mulut tidak memiliki sistem pertahanan ini. Akibatnya, mouth breathing dapat memicu berbagai masalah kesehatan.
1. Gejala Umum pada Orang Dewasa
- Mulut Kering (Dry Mouth): Air liur berfungsi membersihkan bakteri di mulut. Ketika mulut terus terbuka, air liur menguap, memicu bau mulut (halitosis), serta meningkatkan risiko gigi berlubang dan infeksi gusi.
- Gangguan Tidur: Sering memicu dengkur hingga sleep apnea (kondisi di mana napas terhenti sejenak saat tidur). Akibatnya, penderita sering terbangun dalam kondisi lelah dan mengalami kantuk berlebih di siang hari.
- Suara Serak: Udara kering yang langsung mengenai tenggorokan dapat membuat pita suara teriritasi.
2. Dampak Fatal pada Anak-Anak
Dampak mouth breathing pada anak-anak jauh lebih serius karena mereka masih dalam masa pertumbuhan. Jika dibiarkan tanpa penanganan, kondisi ini dapat menyebabkan:
- Mouth Breathing Face (Perubahan Struktur Wajah): Anak yang terbiasa bernapas lewat mulut cenderung memiliki wajah yang tampak lebih panjang dan sempit, rahang bawah yang mundur (dagu kecil), serta posisi gigi yang tidak rapi (tonggos atau berjejal).
- Gangguan Pertumbuhan: Saluran napas yang terhambat dapat mengganggu kinerja kelenjar pituitari dalam melepaskan Human Growth Hormone (HGH) atau hormon pertumbuhan.
- Masalah Perilaku: Akibat kualitas tidur yang buruk karena kekurangan oksigen di malam hari, anak-anak sering kali menjadi hiperaktif, sulit berkonsentrasi di sekolah, atau menunjukkan gejala yang mirip dengan ADHD.
Bagaimana Cara Penyembuhannya?
Penanganan mouth breathing berfokus pada penyumbatan hidung. Beberapa langkah medis yang umumnya direkomendasikan oleh dokter meliputi:
- Obat-obatan: Penggunaan semprotan hidung steroid, antihistamin, atau dekongestan jika penyebabnya adalah alergi atau infeksi sinus.
- Terapi Miofungsional (Myofunctional Therapy): Latihan khusus untuk melatih kembali otot-otot wajah, lidah, dan mulut agar terbiasa beristirahat dalam posisi yang benar (mulut tertutup).
- Tindakan Bedah: Jika terdapat hambatan fisik, dokter mungkin akan menyarankan operasi pengangkatan adenoid atau amandel yang membengkak, serta operasi perbaikan septum hidung yang bengkok (septoplasty).
(Agustina Wulandari )