JAKARTA - Bagi sebagian besar orang, menyemprotkan parfum di area leher sudah menjadi refleks atau ritual wajib sebelum memulai aktivitas. Leher sering kali dianggap sebagai titik nadi utama agar aroma tubuh tetap wangi sepanjang hari.
Namun, apakah kebiasaan ini benar-benar efektif membuat parfum bertahan lebih lama secara ilmiah, ataukah itu hanya mitos belaka?
Riset di bidang kimia wewangian (fragrance science) dan dermatologi memberikan jawaban yang cukup menarik, yaitu menyemprot parfum di leher meningkatkan proyeksi aroma (sillage), tetapi belum tentu membuatnya bertahan paling lama.
Secara anatomis, leher adalah salah satu titik nadi utama manusia. Di area ini, pembuluh darah karotis terletak sangat dekat dengan permukaan kulit yang cenderung tipis.
Menurut studi mengenai penguapan molekul wewangian, panas tubuh bertindak sebagai generator alami yang mengaktifkan molekul parfum. Kulit leher yang hangat akan mempercepat penguapan top notes (aroma awal yang segar seperti sitrus) dan mendistribusikan heart notes (aroma utama) ke udara sekitar secara lebih intens. Jadi, menyemprot di leher sangat efektif untuk proyeksi aroma agar orang lain di sekitar dapat menciumnya dengan jelas.