JAKARTA - Kebiasaan menonton pornografi dan masturbasi atau yang kerap disebut PMO (Porn, Masturbation, Orgasm) dinilai dapat memengaruhi suasana hati dan produktivitas jika dilakukan secara berlebihan, terutama pada waktu tertentu. Salah satunya adalah di pagi hari setelah bangun tidur.
Dokter spesialis andrologi, dr. Jefry Tribowo, mengatakan pagi hari sebaiknya dimanfaatkan untuk aktivitas yang lebih positif dan produktif karena kondisi otak masih segar setelah beristirahat.
“Kalian yang sering melakukan hal ini, sebaiknya hindari waktu-waktu tertentu untuk menonton pornografi dan masturbasi. Kalau terus dilakukan di waktu itu, bukan tidak mungkin hari-hari kalian jadi terasa lebih buruk,” kata dr. Jefry dalam unggahan video di akun Instagram miliknya, dikutip Kamis (28/5/2026).
Menurutnya, waktu yang sebaiknya dihindari untuk melakukan PMO adalah sesaat setelah bangun tidur. Ia menjelaskan, aktivitas yang dilakukan di awal hari dapat memengaruhi suasana hati, fokus, dan pola aktivitas seseorang sepanjang hari.
“Waktu yang sebaiknya dihindari untuk menonton pornografi dan masturbasi adalah pagi hari setelah bangun tidur,” ujarnya.
Dr. Jefry menilai, jika seseorang langsung melakukan PMO saat memulai hari, hal tersebut dapat membuat otak terbiasa menerima rangsangan instan sejak pagi. Kondisi ini disebut dapat memengaruhi konsentrasi dan motivasi untuk menjalani aktivitas lain.
“Kalau baru bangun tidur langsung menonton pornografi dan masturbasi, yang terjadi adalah kita mengawali hari dengan stimulasi yang kurang baik,” jelasnya.
Ia juga mengingatkan bahwa pagi hari idealnya dimanfaatkan untuk kegiatan yang lebih bermanfaat, seperti belajar, berolahraga ringan, atau mempersiapkan diri menjalani aktivitas harian.
“Pagi hari sebenarnya waktu yang baik untuk mengisi kepala dengan hal-hal positif. Daripada menonton pornografi, lebih baik digunakan untuk belajar atau aktivitas lain yang produktif,” tambahnya.
Meski begitu, dr. Jefry menekankan pentingnya membangun kebiasaan sehat secara bertahap, terutama bagi mereka yang merasa sulit mengurangi kebiasaan tersebut akibat faktor kecanduan atau rutinitas tertentu.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)