JAKARTA - Duck Syndrome atau sindrom bebek pertama kali dicetuskan oleh Stanford University. Kondisi psikologis datang dari mahasiswa yang bertahan dari tekanan lingkungan yang kompetitif, tapi justru yang ditampilkan adalah kepribadian yang santai. Hal ini dianalogikan seperti bebek yang terlihat tenang berada di kolam, padahal kakinya tengah mengayuh di bawah permukaan air untuk mempertahankan agar tubuhnya tetap stabil.
Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa dari Mayapada Hospital Kuningan dr. Elli Misnawati, Sp.KJ menjelaskan tentang fenomena Duck Syndrome ini. Menurutnya, Duck Syndrome terlihat dari penampilan sehari-hari, di mana orang tersebut tampak sangat tenang, terlihat tidak punya masalah, bahkan mungkin mempunyai prestasi atau karier yang cukup baik dan bahkan mempunyai kehidupan yang sempurna.
“Tapi pada kenyataannya secara internal mereka mengalami suatu atau beberapa gejala psikologis yang berpotensi untuk menyebabkan suatu gangguan psikiatrik di kemudian harinya,” ucapnya.
Gejala Duck Syndrome bisa dikenali sejak dini. Dokter Elli menyebut, ada beberapa gejala yang umum ditemukan di masyarakat, antara lain:
Punya keinginan yang kuat untuk melakukan kompetisi dengan orang lain. “Ia selalu ingin tampil lebih baik daripada orang lain, sehingga ia akan seperti mencari sebuah validasi atau berusaha untuk menampilkan citra diri yang sempurna di publik,” ucap dr. Elli.