JAKARTA – Infeksi virus dengue, atau yang lebih dikenal masyarakat dengan DBD, masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat yang signifikan di Indonesia. Data Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) menunjukkan rata-rata kasus DBD dalam lima tahun terakhir meningkat hampir tiga kali lipat pada 20 tahun terakhir.
Siklus puncak kasus yang kini terjadi lebih cepat dari sekitar 10 tahun menjadi 3 tahun atau kurang. Karena itu, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau anak-anak segera divaksin dengue.
Penyakit DBD dinilai tidak lagi bersifat musiman. Penyakit ini ada sepanjang tahun dan dapat menyerang siapa saja, baik anak-anak maupun orang dewasa.
Prof. Dr. dr. Hartono Gunardi, Sp.A, Subsp.T.K.P.S(K), Ketua Satgas Imunisasi Anak Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), menekankan bahwa DBD memiliki karakteristik yang unik. Pasalnya, perjalanan penyakitnya tidak selalu dapat diprediksi.
“Seorang anak dengan gejala awal DBD yang umum, seperti demam tinggi mendadak, sakit kepala, nyeri otot dan sendi, hingga mual atau muntah, kadang dapat terjadi perburukan yang cepat yaitu terjadi perdarahan hebat dan syok. Selain itu dapat terjadi komplikasi lain seperti kejang dan penurunan kesadaran,” ungkap dr. Hartono dalam keterangan resminya.
Karena itu, pencegahan perlu dilakukan secara komprehensif, mulai dari pengendalian lingkungan melalui 3M Plus hingga perlindungan tambahan yakni vaksin dengue sebagai bagian dari pendekatan yang komprehensif.
“Dalam praktiknya, tenaga kesehatan dapat membantu masyarakat memahami berbagai opsi pencegahan yang tersedia, termasuk imunisasi. Sejalan dengan persetujuan BPOM terbaru, imunisasi dengue direkomendasikan bagi anak-anak usia 4 hingga 18 tahun,” jelasnya.
Jonathan Sudharta, CEO & Co-founder Halodoc, mengatakan, langkah pencegahan yang dilakukan secara konsisten dan komprehensif menjadi semakin relevan. Hal ini dilakukan seiring dengan risiko penularan yang terjadi sepanjang tahun dan dipengaruhi oleh perubahan pola cuaca.
“Kita mempermudah akses layanan tepercaya, termasuk solusi terintegrasi DBD mulai dari edukasi hingga langkah preventif seperti vaksinasi,” ungkap Jonathan.
Dengue sendiri merupakan penyakit yang dapat berkembang menjadi kondisi serius dan mengancam jiwa yang hingga saat ini belum ada obat yang spesifik untuk menyembuhkannya. Dengan begitu, penanganannya lebih berfokus pada pengelolaan gejala.
“Sebagai mitra dari Kementerian Kesehatan RI, kami berkomitmen untuk terus mendukung upaya menuju Nol Kematian Akibat Dengue pada Tahun 2030,” tambah Andreas Gutknecht, Presiden Direktur PT Takeda Innovative Medicines.
(Djanti Virantika)