JAKARTA - Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) kian menjadi perhatian di tengah meningkatnya penggunaan media sosial dalam kehidupan sehari-hari. Kondisi ini kerap dialami masyarakat saat mengakses media sosial, yang awalnya bertujuan sebagai hiburan namun justru memicu perasaan tertinggal, cemas, hingga stres akibat derasnya arus informasi dan tren yang terus berkembang.
FOMO sendiri merujuk pada rasa takut ketinggalan tren, pembaruan, atau momen yang tengah ramai diperbincangkan. Dampaknya tidak hanya terbatas pada kebiasaan mengakses media sosial secara berlebihan, tetapi juga berpengaruh pada kondisi psikologis individu. Tekanan sosial akibat standar kehidupan yang terlihat “sempurna” di ruang digital mendorong individu untuk terus tampil mengikuti tren, sehingga memicu kecemasan apabila merasa tidak update.
Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat mengurangi autentisitas diri karena individu cenderung lebih fokus mengikuti arus dibandingkan mengekspresikan diri secara alami.
Berdasarkan Journal of Behavioral Addictions, fenomena FOMO memiliki korelasi dengan meningkatnya penggunaan internet.
Penelitian yang dilakukan oleh Akbari (2021) menunjukkan hasil survei terhadap lebih dari 50.000 partisipan, yang mencerminkan tingginya trafik penggunaan internet.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 58,37% partisipan merupakan perempuan. Temuan ini juga mengindikasikan bahwa FOMO semakin menguat seiring maraknya penggunaan internet, khususnya selama periode pandemi Covid-19.
Pasca pandemi, peningkatan penggunaan internet masih terus berlanjut. Generasi muda pada periode 2020–2023 tercatat menjadi partisipan sekaligus kontributor utama dalam tingginya trafik digital, dengan dominasi dari kelompok Gen Z. Hal ini menunjukkan bahwa kelompok usia muda memiliki peran signifikan dalam membentuk dinamika interaksi di ruang digital saat ini.
Seiring dengan kondisi tersebut, muncul kesadaran baru di kalangan generasi muda mengenai pentingnya menciptakan ruang digital yang lebih nyaman dan tidak memicu rasa insecure. Masyarakat mulai mencari alternatif platform yang tidak hanya berfokus pada tren, tetapi juga mendorong koneksi yang lebih autentik serta eksplorasi minat pribadi.
Konsep ruang digital yang tidak menekan pengguna untuk selalu mengikuti arus menjadi kebutuhan baru. Dalam ekosistem ini, rekomendasi tidak lagi sepenuhnya bergantung pada algoritma, melainkan berasal dari pengguna lain yang memiliki minat serupa. Pendekatan ini dinilai mampu menciptakan interaksi yang lebih relevan dan personal.
Salah satu konsep yang mulai berkembang adalah social e-commerce, yang menggabungkan aktivitas belanja daring dengan interaksi sosial yang lebih sehat. Melalui pendekatan ini, pengalaman digital tidak hanya berorientasi pada transaksi, tetapi juga pada keterhubungan antar pengguna yang lebih bermakna.
Pomogo Social E-commerce menjadi salah satu platform yang menawarkan konsep tersebut dengan menghadirkan ruang digital yang lebih autentik dan bebas tekanan. Platform ini berupaya menciptakan pengalaman online yang tidak sekadar mengikuti tren, tetapi juga memberikan ruang bagi pengguna untuk berekspresi sesuai dengan minat dan preferensi masing-masing.
“Jangan sampai dunia digital justru membuat kita merasa insecure. Ruang online seharusnya bisa menjadi tempat yang nyaman bagi pengguna untuk berekspresi dan terhubung secara lebih autentik,” ujar Rajiv Fatih, Team Partnership dari Pomogo E-commerce.
Dengan berkembangnya kesadaran ini, transformasi menuju ruang digital yang lebih sehat diperkirakan akan terus berlanjut. Social e-commerce pun dinilai dapat menjadi salah satu solusi dalam menghadirkan pengalaman digital yang lebih seimbang antara interaksi sosial, ekspresi diri, dan kebutuhan pengguna.
(Khafid Mardiyansyah)