JAKARTA - Masyarakat Indonesia terpapar sinar ultraviolet (UV) dengan intensitas tinggi sepanjang tahun. Paparan UV dapat merusak DNA kulit dan meningkatkan risiko terkena kanker kulit bagi semua jenis kulit, tidak hanya bagi mereka yang berkulit terang.
Risiko ini tercermin dalam data Globocan yang mencatat sekitar 1.716 kasus baru melanoma, salah satu jenis kanker kulit paling ganas di Indonesia pada tahun 2022. Angka sebenarnya berpotensi lebih tinggi jika kanker kulit non-melanoma yang lebih umum terjadi juga diperhitungkan.
Tingginya risiko angka kanker kulit di Indonesia ini dapat dicegah dengan deteksi dini agar dapat diatasi lebih cepat. Kondisi inilah yang membuat skrining longitudinal berbasis AI dapat membantu memperluas pemantauan setingkat spesialis terhadap lebih banyak pasien, menjadikan deteksi dini lebih mudah diakses dan sistematis.
“FotoFinder ATBM Master kini memungkinkan pemantauan kulit yang objektif dan berkelanjutan. Dengan menggabungkan dermoskopi digital, pemetaan tubuh total, dan analisis berbasis AI, dokter dapat mengidentifikasi perubahan yang berpotensi bahaya jauh lebih awal dibandingkan pemeriksaan konvensional,” ujar Dr. dr Yulia Siskawati, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, dokter spesialis kulit Lumi Clinic, dikutip Jumat (27/3/2026).
dr. Yulia mengatakan keterbatasan jumlah dokter spesialis kulit yang saat ini hanya sekitar 2.500 dermatolog di seluruh Indonesia membatasi akses masyarakat terhadap pemeriksaan penting seperti dermoskopi, mole mapping, dan skrining kulit berkala. Akibatnya, banyak pasien baru mencari pengobatan saat kondisinya sudah berada di tahap lanjut.
Ia menjelaskan sistem FotoFinder Automated Total Body Mapping (ATBM) Master sebagai teknologi utama di pusat skrining. Sistem ini menggabungkan fotografi seluruh tubuh beresolusi tinggi, dermoskopi digital, dan analisis berbasis AI untuk memetakan serta memantau setiap lesi kulit dari waktu ke waktu.
Pendekatan ini memungkinkan dokter memantau perubahan sekecil apa pun pada kulit pasien dari waktu ke waktu, sehingga potensi kanker kulit dapat terdeteksi lebih dini dan akurat.
“Teknologi tersebut terutama sangat bermanfaat bagi pasien berisiko tinggi yang memerlukan pemantauan jangka panjang, bukan sekadar pemeriksaan sesekali,” tambahnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)