JAKARTA - Banjir menerjang sejumlah wilayah di Jabodetabek imbas hujan deras yang melanda sejak beberapa hari lalu. Momen ini membuat sejumlah ruas jalan dan wilayah pemukiman tergenang air dengan ketinggian yang beragam.
Banjir tidak hanya membawa kerugian materi, tetapi juga berbagai risiko kesehatan. Air banjir umumnya tercemar oleh lumpur, sampah, limbah rumah tangga, hingga kuman dan bakteri berbahaya.
Oleh karena itu, mandi sesegera mungkin setelah terkena banjir sangat dianjurkan. Berikut lima manfaat langsung mandi usai terpapar air banjir, dikutip Ariston, Senin (26/1/2026).
1. Menghilangkan Kuman dan Bakteri Berbahaya
Air banjir sering mengandung bakteri, virus, dan parasit yang dapat menyebabkan penyakit seperti diare, leptospirosis, dan infeksi kulit. Mandi dengan air bersih dan sabun membantu membersihkan tubuh dari mikroorganisme berbahaya tersebut sebelum masuk ke dalam tubuh.
2. Mencegah Penyakit Kulit
Manfaat selanjutnya ialah mencegah penyakit kulit. Paparan air banjir dapat memicu gatal-gatal, iritasi, hingga infeksi jamur dan bakteri pada kulit. Dengan mandi segera, sisa lumpur dan kotoran yang menempel dapat dihilangkan sehingga risiko penyakit kulit dapat ditekan.
3. Mengurangi Risiko Infeksi Luka
Mandi usai terkena banjir dapat mengurangi risiko infeksi luka. Jika terdapat luka terbuka atau lecet, air banjir dapat memperparah kondisi dan menyebabkan infeksi. Mandi dan membersihkan tubuh dengan benar membantu menjaga kebersihan area luka dan mencegah komplikasi yang lebih serius.
4. Menjaga Kebersihan dan Kenyamanan Tubuh
Selain alasan kesehatan, mandi setelah terkena banjir membuat tubuh terasa lebih segar dan nyaman. Bau tidak sedap akibat lumpur dan air kotor dapat hilang, sehingga tubuh kembali bersih dan rasa tidak nyaman berkurang.
5. Mendukung Kesehatan Mental
Banjir sering kali menimbulkan stres dan kelelahan fisik maupun mental. Mandi air bersih dapat memberikan efek relaksasi, membantu tubuh merasa lebih tenang, dan memperbaiki suasana hati setelah mengalami situasi yang tidak menyenangkan.
(Rani Hardjanti)