PERHATIAN media baru-baru ini tertuju pada penyebaran Mpox yang merupakan nama lain dari Monkeypox atau cacar monyet. Sekadar informasi, Republik Demokrasi Kongo (DRC), pertama kali melaporkan kasus ini pada 1970, dan ke negara-negara tetangganya.
Pada kasus di DRC, strain clade I menular dari hewan, seperti tikus kecil, ke manusia, dan kadang-kadang menyebar antar manusia. Kasus-kasus ini terkonsentrasi di barat dan tengah negara tersebut dan memengaruhi banyak anak-anak yang berisiko tinggi mengalami penyakit parah.
Kasus-kasus clade I telah meningkat selama bertahun-tahun, kata Anne Rimoin, seorang epidemiolog dari University of California, Los Angeles, yang telah lama mempelajari Mpox di DRC. Meskipun ada laporan bahwa clade I mungkin lebih mematikan daripada clade II, data yang tersedia masih belum cukup untuk mendukung klaim tersebut.
DRC melaporkan bahwa clade I memiliki tingkat kematian hingga 10 persen, sementara clade Il dikatakan membunuh hingga 3,6 persen dari mereka yang terinfeksi. Namun, data terbaru menunjukkan bahwa tingkat kematian sebenarnya dari clade I di DRC sekitar tiga persen.
Hal ini menekankan perlunya penelitian lebih lanjut untuk memahami perbedaan tingkat kematian antara clade-clade tersebut. Membandingkan data kematian antara Nigeria dan DRC bisa seperti ‘membandingkan apel dan jeruk’ karena perbedaan dalam mendeteksi infeksi ringan.
Kondisi ini membuat virus di DRC tampak lebih mematikan daripada di Nigeria. Faktor-faktor seperti cara terpapar, status kesehatan sebelumnya, dan kualitas perawatan juga berperan. Selain itu, usia berperan penting dalam perbedaan ini.
Merangkum dari Science, Senin (26/8/2024), DRC melaporkan lebih banyak kasus pada anak-anak, yang berisiko lebih tinggi meninggal karena Mpox, terutama jika mereka sangat muda atau kurang gizi.
Salah satu data menarik berasal dari studi yang belum dipublikasikan tentang obat antivirus tecovirimat untuk mengobati pasien Mpox di DRC. Data ini diperoleh dari Institut Nasional Alergi dan Penyakit Menular serta INRB.
Meskipun obat tersebut tidak berhasil, siaran pers pada 15 Agustus melaporkan bahwa tingkat kematian sebesar 1,7 persen terjadi di kedua kelompok, baik yang menerima pengobatan maupun plasebo.