Baik untuk Kesehatan Jiwa, Kemenparekraf Dukung Sound Healing sebagai Wellness Alternatif

Wiwie Heriyani, Jurnalis
Rabu 24 Juli 2024 11:12 WIB
Menparekraf, Sandiaga Salahuddin Uno (Foto: dok. Kemenparekraf)
Share :

KEMENTERIAN Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf) mendukung pelaksanaan sound healing sebagai wellness alternatif di Indonesia yang berlangsung pada Rabu (24/7/2024) di Balairung Soesilo Soedarman, Gedung Sapta Pesona, Jakarta. Event ini digelar bertepatan dengan International Self-care Day. 

"Saya sangat mengapresiasi sound healing sebagai wellnes alternatif di Indonesia. Waktu di Jakarta (menjabat sebagai Wagub DKI) kita pernah membuat studi dan kita menemukan bahwa 20 persen dari populasi Jakarta in some sort of mental health issue," ungkap Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf), Sandiaga Salahuddin Uno.

Sound healing merupakan terapi musik yang bertujuan membantu menenangkan pikiran sehingga dapat membantu pasien yang sedang mengalami gangguan kecemasan atau depresi. 

Terapi biasanya menggunakan alat-alat musik tradisional seperti gamelan, suling, dan lainnya. Namun juga bisa musik instrumental. 

(Foto: dok. Kemenparekraf)

Pada 2023, Kemenparekraf menetapkan kategori daya tarik 'Mental, Healing & Spirituality' untuk wisata kebugaran, yang menawarkan pengalaman kesehatan mental, penyembuhan non-medis, serta kegiatan spiritual dan  mindfulnes.

Direktur Utama Pusat Kesehatan Jiwa Nasional RS Marzoeki Mahdi, Dr.dr. Nova Riyanti Yusuf, Sp.KJ, menjelaskan betapa pentingnya kesehatan jiwa (mental health). Bahwa sampai saat ini masih sangat relevan jika dikatakan tidak ada kesehatan tanpa kesehatan jiwa. 

Sangat fundamental bagaimana seorang manusia harus punya kompetensi. Artinya memiliki kemampuan untuk berfikir, merasa, berperilaku, berinteraksi dengan orang lain, menikmati hidup, menikmati pariwisata, dan lainnya. "Itu semua sangat fundamental (untuk kita) punya kesehatan mental," kata Nova.

Lebih lanjut Noriyu, sapaan akrab Nova, mengatakan dalam sound healing, diyakini bahwa melalui suara akan bisa ikut menentukan intervensi yang terbaik untuk early psychosis (fase awal penyakit). 

"Jadi daripada menunggu seseorang sudah gangguan jiwa berat, akan lebih baik kalau kita melakukan early intervention, dan salah satunya menggunakan (terapi) suara," ujar Noriyu. 

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya