Dalam proses produksi, Gayatri mengaku kalau dia hanya memiliki dua pengrajin. Itu yang membuat produksi tas hanya bisa 1 buah per hari.
Konsep berkelanjutan diterapkan Gui dengan memastikan tidak ada kain tenun sutera yang dibuang. Sekecil apapun dimanfaatkan menjadi barang yang bermanfaat.
"Misalnya book cover, itu dibuat dari perca kain kecil-kecil sisa dari pembuatan tas, headband, atau scrunchie. Perca itu kami bordir lagi sampai menjadi cover book yang bisa di lepas pasang. Jadi bisa dipakai terus menerus," papar Gayatri.
(Foto: Muhammad Sukardi/MPI)
Brand Gui sendiri lahir dari hasil eksperimen pada 2018. Menurut Gayatri, di 2020 baru kemudian mulai memproduksi, tapi masih sebatas hobi.
"Pas sudah jadi beberapa produk, ternyata teman-teman suka. Ya sudah lanjut untuk lebih seriusin Gui pada 2022 hingga sekarang," tuturnya.
(Rizka Diputra)