Sampai pada suatu hari, tubuh Inara pernah terbujur kaku di kasur dengan berlumur darah di seluruh wajahnya. Melihat kondisi tersebut, banyak orang yang mengejek dan mencaci penampilan fisik Inara.
“Sakit hati. Bullyan dan cacian sudah biasa kami terima dari tetangga dan kerabat, sampai-sampai anak saya di sebut anak monyet karena sering garuk-garuk dan dijauhi oleh semua anak, karena orang tua mereka melarang mendekati anak saya takut menular,” tutur Lina sembari menangis.
Luka di wajah Inara kerap kali terasa gatal hingga sakit. Ketika ia merasakan hal tersebut, Inara hanya bisa menangis sembari merintih kesakitan. Namun usapan ibu dan ayah yang jadi ‘obat’ untuk menenangkannya.
Kedua orangtua Inara berharap doanya dapat menembus langit dan muncul keajaiban, penyakit itu hilang dan sakit yang dirasakan Inara pergi. Sehingga Inara bisa tumbuh seperti anak normal pada umumnya.
(Leonardus Selwyn)