PENYAKIT jantung menyumbang angka kematian terbesar di dunia, termasuk Indonesia. Banyak jenis penyakit jantung, salah satunya adalah sindrom brugada atau yang dikenal dengan aritmia.
Kondisi pasien yang mengidap sindrom brugada ini biasanya mengalami gangguan irama jantung yang berupa fibrilasi ventrikel atau takikardia ventrikel yang cepat, hingga menyebabkan henti jantung.
Di Indonesia, sendiri jumlah pasien yang meninggal akibat kematian jantung mendadak diperkirakan lebih dari 100.000 jiwa per tahun. Penyakit ini menjadi penyumbang terbesar kematian jantung mendadak pada individu yang sehat (>20%) terutama di daerah Asia Tenggara.
Penderita akan mengalami impuls listrik pada sel di bilik kanan atas jantung hingga menyebabkan jantung mudah berdetak dengan cepat. Gejala yang timbul dari sindrom brugada tidak jauh berbeda dengan gangguan irama jantung lainnya, seperti rasa berdebar, pingsan, kejang sampai meninggal mendadak.
Sampai saat ini penyebab sindrom Brugada belum jelas, akan tetapi, faktor genetik dipercaya memberi kontribusi yang penting. Ada berbagai cara untuk penanganan sindrom brugada ini, salah satunya dengan pemasangan alat kardiak defibrilator implan (ICD) agar mampu menormalkan denyut jantung sehingga terhindar dari risiko fatal.
Konsultan Aritmia di Heartology Cardiovascular Hospital, dr Sunu Budhi Raharjo, SpJP(K), PhD, menjelaskan dengan kemajuan teknologi, pemasangan ICD kini tak perlu langsung di jantung, tetapi di bawah kulit melalui metode Subcutaneous Implantable Cardioverter Defibrillator (S-ICD).
“Hal ini mampu memberi komplikasi lebih kecil. Yang tidak kalah penting, aktivitas pasien tidak terganggu,” ujar dr Sunu.