SUASANA Ramadhan seharusnya membawa kemeriahan namun hal tersebut tidak berlaku bagi warga Gaza. Mereka harus menjalani Ramadhan dengan penuh rasa ketakutan dan dihantui oleh penyerangan yang dilakukan oleh tentara Israel.
Meskipun begitu, mereka tetap menjalankan kewajibannya sebagaimana umat muslim. Walaupun Masjid yang berada di sana telah hancur tetapi puluhan orang Palestina di Gaza tetap melakukan ibadah salat tarawih di hari pertama Ramadhan.
Mirisnya, mereka harus salat di balik reruntuhan Masjid dengan keadaan yang memprihatinkan. Tidak ada penerangan, mereka hanya memanfaatkan cahaya dari kendaraan yang tersisa untuk menjadi alternatif penerangan disana.
Lampu-lampu di sisi jalan yang sebelumnya dipergunakan untuk menerangi jalanan kini selama bulan puasa sudah tidak ada lagi.
“Saya berharap pesawat akan mengebom saya dan saya mati,” kata Zaki Hussein Abu Mansyur selaku Pemilik Bangga Rumah yang dia bangun untuk keluarganya di Khan Younis, dikutip dari laman TRTWORLD, Selasa (12/3/2024).
“Lebih baik mati daripada menjalani hidup seperti ini,” tuturnya.
Zaki mengatakan terkadang dia harus merelakan kebutuhan yang sebetulnya diperlukan dan dia temukan di Pasar. Tapi hal itu harus ditahan karena tidak bisa membelinya. Menurutnya, kekurangan adalah hal yang normal terjadi di Gaza saat Ramadhan ini.
“Kami bahkan tidak mampu membeli sayuran apalagi buah. Semuanya terlalu mahal. Saya dan anak-anak saya tidak dapat membeli apapun. Harga bahkan barang paling sederhana pun telah meroket,” ucap Maisa al Balbissi.
Orang-orang Palestina merayakan Ramadhan tahun ini di tengah serangan brutal dan invansi yang diluncurkan oleh Israel. Bagi mereka yang terpaksa tinggal di kamp-kamp terasa penuh sesak untuk para pengungsi.
Keadaan semakin memburuk di saat kekurangan makanan dan kondisi kehidupan yang semakin tidak higienis telah meredam suasana meriah bulan suci Ramadhan. Setidaknya sebanyak 1,5 juta orang telah mencari perlindungan di Rafah, menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) sebagian besar tidak ada akses makanan, air, dan obat-obatan.
(Leonardus Selwyn)