Oleh karenanya, Kemenparekraf berusaha menerapkan blue ocean strategy dalam mengeluarkan program-program dan kebijakan dalam mengembangkan potensi parekraf yang dimiliki Indonesia seperti Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI), Kabupaten/Kota Kreatif (KaTa Kreatif), dan pengembangan pariwisata berkelanjutan yang berkaitan erat dengan sertifikasi SNI CHSE (Cleanliness, Health, Safety & Environmental Sustainability).
"Ini berbeda dengan red ocean strategy, di mana para pelaku pariwisata dan ekonomi kreatif itu saling bersaing dan berlomba-lomba untuk menurunkan harga," ujar dia.
Meski demikian, sektor pariwisata Indonesia di tahun 2024 lanjut Sandi, akan terus menemukan terobosan-terobosan baru. Salah satunya berkaitan dengan green tourism atau pariwisata hijau yang mengutamakan keberlanjutan dan menjamin kebutuhan akan sumber daya lingkungan.
"Transisi menuju pariwisata hijau ini akan menciptakan lapangan kerja hijau atau green jobs. Investasi-investasi yang kita lakukan menunjukkan komitmen kita, termasuk dalam mengurangi emisi karbon dari total 8 persen menuju 4 persen di tahun 2030," paparnya.
Ia menambahkan, tujuan dari acara ini tidak lain adalah untuk mempersiapkan generasi muda ke depan yang akan menjadi pemimpin bangsa ini.
"Tadi kami bertukar pikiran secara komprehensif tentang bagaimana membangun Indonesia ke depan, visi Indonesia Emas 2045 melalui kebijakan yang berpihak kepada ekonomi hijau," demikian Sandi.
(Rizka Diputra)