Ribuan Pengungsi dan Pasien Padati Rumah Sakit Eropa di Gaza

Wulan Savitri, Jurnalis
Selasa 13 Februari 2024 17:00 WIB
Ribuan pengungsi Gaza padati Rumah Sakit Eropa. (Foto: France24)
Share :

RIBUAN pengungsi dan pasien memadati Rumah Sakit Eropa yang penuh sesak. Beberapa pekan terakhir, penembak jitu telah meluaskan target ke bagian selatan dan menyebabkan penduduk lokal terjebak dan terperangkap.

Dokter Raphaël Pitti dari tim tenaga kesehatan LSM PalMed Europe mengungkapkan kondisi masyarakat Gaza yang terjebak dalam situasi yang sulit. Dia mencatat bahwa sebagian penduduk lokal terpaksa tidur di trotoar atau di bawah tempat penampungan sementara.

Perawat Imane Maarifi pun menambahkan bahwa masyarakat Gaza hidup dalam serba kekurangan. Petugas medis mencatat, adanya 25.000 pengungsi berkumpul di sekitar Khan Younis. Sementara itu, setidaknya 6.000 pasien berdesakan di dalam rumah sakit.

Pada saat ini, Rumah Sakit Eropa merupakan salah satu fasilitas medis terakhir yang berfungsi di Jalur Gaza. Para sukarelawan melakukan pekerjaan perawat, sedangkan sebagian besar perawat bertugas sebagai dokter. Sementara tim dokter menggantikan peran ahli bedah.

“Di koridor begitu sesak, staf medis dan relawan berusaha semaksimal mungkin untuk memberikan perawatan kepada orang sakit dan terluka. Tidak ada sprei, tirai steril, atau kompres, bahkan persediaan obat pereda nyeri semakin menipis,” ujar perawat Maarifi, dikutip dari France21, Selasa (13/2/2024).

Kini kondisi di Rumah Sakit Eropa kesulitan dalam menangani pasien yang menderita penyakit kronis. Tim medis pun tidak dapat melakukan cuci darah atau kemoterapi terhadap pasien sekarat yang membutuhkan pengobatan.

“Saat itu seorang pasien diabetes berusia 24 tahun sedang hamil. Dia juga mengalami komplikasi akibat kekurangan insulin. Namun, kami tidak bisa melakukan apa pun sehingga dia kehilangan bayi dan meninggal pada keesokan hari,” ucapnya.

Juru bicara Komite Palang Merah Internasional (ICRC) Lucile Marbeau mengungkapkan bahwa kesehatan masyarakat di Gaza berada di tengah kehancuran. Setiap hari pasien terus berdatangan untuk melakukan operasi. Hal itu membuat warga yang menderita sakit kronis tidak mendapatkan pengobatan layak.

“Setiap hari kami menjalani operasi pada pasien yang terluka akibat perang. Namun, situasi di dekat Rafah, perbatasan mesir kini semakin memburuk. Israel telah meluaskan serangannya ke selatan Gaza,” tutur Marbeau.

Kelangkaan akses air minum dan lonjakan bahan makanan membuat masyarakat kesulitan mendapatkan cukup makanan. Marbeau menekankan perlunya peralatan khusus untuk melakukan perbaikan infrastruktur dasar, seperti pekerjaan pipa guna meningkatkan akses terhadap air minum.

Sejak PBB telah mengizinkan pengiriman bantuan kemanusiaan ke Jalur Gaza pada Desember 2023. Namun menurut laporan LSM, hanya sedikit bantuan yang sampai kepada masyarakat Gaza lebih dari sebulan yang lalu.

Marbeau menyoroti akses ke bagian utara Gaza masih sulit dikunjungi. Dia juga mengkhawatirkan serangan darat di Rafah dapat berdampak buruk di kawasan padat penduduk.

“Meskipun kami tidak dapat membantu masyarakat rentan di Gaza bagian utara. Bagaimanapun caranya, kita harus menyelamatkan warga sipil dengan rasa hormat yang lebih besar terhadap hukum kemanusian,” tuturnya.

(Leonardus Selwyn)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya