DOCTORS Without Borders mengungkapkan fasilitas medis terbesar yang tersisa di jalur Gaza yakni Rumah Sakit Nasser tengah terpuruk akibat serangan militer Israel. Rumah sakit tersebut kesulitan memberikan perawatan kepada pasien kritis.
Sebelumnya, Rumah Sakit Nasser menjadi salah satu tempat pengungsian dan fasilitas medis yang beroperasi. Namun, Israel telah mengepung Khan Younis dan gencar melakukan serangan intensif kepada Hamas.
Menurut laporan Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Gaza, sejak Rabu 24 Januari 2024, tidak ada seorangpun yang dapat mengakses jalan masuk dan keluar dari rumah sakit akibat pengeboman.
“Sebagian besar tim medis menyelamatkan diri setelah Israel menyerukan evakuasi. Sementara itu, sekitar 350 pasien terjebak di dalam rumah sakit dan tidak dapat keluar karena jalur yang sangat berbahaya,” tutur kelompok Doctors Without Borders yang menggunakan akronim Prancis MSF, dikutip dari National Publik Radio (NPR), Selasa (30/1/2024).
MSF juga mencatat bahwa dokter di Rumah Sakit Nasser merasa tak berdaya akibat kondisi yang memprihatinkan, termasuk kekurangan tempat tidur dan persediaan dasar. Dokter yang diwawancarai oleh MSF mengungkapkan bahwa tenaga medis di sana bahkan harus memeras darah dari kain kasa dan mensterilkannya kembali.
Koordinator MSF, Guillemette Thomas, menegaskan serangan tersebut harus segera dihentikan. Hal itu dipaparkannya untuk memastikan masyarakat yang terluka mendapatkan pelayanan medis.
“Para dokter tidak berdaya karena situasi di sana sangat mengerikan. Kami kekurangan persediaan medis dan tempat tidur, bahkan terpaksa mensterilkan kain kasa untuk digunakan kembali,” ujar seorang dokter yang dikutip dari MSF.
Hingga saat ini, militer Israel terus meningkatkan serangan sebagai respons terhadap Hamas sejak 7 Oktober 2023. Menurut pemerintah Israel, peristiwa tersebut menewaskan setidaknya 1.200 korban dan 250 orang disandera, serta 130 orang ditahan di Gaza.
Sementara itu, berdasarkan data yang dikeluarkan Kemenkes Gaza, jumlah korban masyarakat Palestina telah mencapai 25.000 orang.
(Leonardus Selwyn)