Melihat Gubuk Kayu Berusia 116 Tahun, Saksi Bisu Ekspedisi Hidup Mati ke Antartika

Khansa Azzyati Qisthina, Jurnalis
Sabtu 27 Januari 2024 11:07 WIB
Gubuk kayu berusia 116 tahun saksi bisu ekspedisi penjelajah Inggris, Ernest Shackleton ke Antartika (Foto: Oceanwide Expeditions)
Share :

SELAMA 115 tahun terakhir, sebuah gubuk kayu kecil berdiri di atas area batu bebas es di Cape Royds, di sebelah Danau Pony, Antartika. Meski ini salah satu tempat paling ramah di benua yang luas dan tandus, namun bukanlah tempat yang mudah untuk berlibur.

Semburan batuan vulkanik hitam menjorok ke sepanjang pantai yang suhunya turun di bawah minus 45 derajat celsius dan angin kencang menyebabkan badai salju yang menghalangi penglihatan.

Bahkan dengan perlengkapan cuaca dingin terkini, berada di sana selama bulan-bulan musim dingin bukanlah hal yang mudah.

Pada tahun 1908, peralatan seperti itu jauh lebih sederhana. Penjelajah terkenal Inggris Ernest Shackleton dan anak buahnya tidak dapat berlabuh di King Edward VII Land karena kondisi yang buruk.

Ia memutuskan untuk memasuki McMurdo Sound dan mulai membangun gubuk yang sudah dibuat sebelumnya. Mereka menggali fondasi ke dalam tanah berbatu dan beku.

Memasang rangka kayu dengan campuran semen dan abu dan menggunakan kain dan gabus butiran untuk memberikan sedikit isolasi. Generator karbida dan dua kompor merupakan penghasil panas, dengan tungku besar untuk memasak.

(Foto: Oceanwide Expeditions)

Selama 14 bulan Shackleton dan anak buahnya tinggal di tempat sempit ini, berlindung dari kondisi ekstrem. Selama waktu itu mereka mencapai sejumlah prestasi luar biasa.

Pada Maret 1908, rombongan beranggotakan lima orang menjadi orang pertama yang mendaki Gunung Erebus. Beberapa bulan sebelum rombongan beranggotakan empat orang berusaha menjadi orang pertama yang mencapai kutub elatan geografis.

Setelah dua setengah bulan perjalanan dan hanya berjarak 97 mil laut dari tujuan, Shackleton memutuskan untuk kembali. Dia takut salah satu anggotanya akan mati dan tidak mau mengambil risiko.

Menurut Antarctic Heritage Trust, keputusan untuk pulang ke rumah dianggap sebagai keputusan terbaik dalam sejarah awal kutub.

Mereka meninggalkan gubuk dan segala isinya. Makanan, pakaian, dan barang-barang pribadi lainnya ditinggalkan di tempatnya. Ketika tempat tinggal itu dikunjungi setelah beberapa tahun kemudian, tidak hanya masih berdiri, makan malam masih ada di piring dan kaus kaki digantung di tali pengering.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya