MENTERI Kesehatan Palestina Mai al-Kaila meminta penyelidikan segera dilakukan terkait pasukan Israel yang membumihanguskan warga Palestina, Mereka menghabisi warga Palestina tanpa pandang bulu termasuk pasien yang terluka di halaman Kamal Adwan Rumah Sakit di Gaza utara.
Akhir pekan lalu para dokter dan saksi lainnya mengatakan pasukan Israel menghancurkan tenda-tenda yang menampung warga Palestina yang terlantar di dekat rumah sakit. Tenda-tenda tersebut berada di salah satu dari 11 rumah sakit yang masih berfungsi di Gaza sejak Israel melancarkan serangan militernya pada 7 Oktober 2023.
Keterangan dari sejumlah saksi, pasukan Israel melibas tempat penampungan warga Palestina di sekitar rumah sakit menggunakan buldoser. Saksi mata lainnya menuturkan bahwa penembak jitu Israel sengaja menargetkan warga sipil sebagai sasaran.
“Pada Minggu pagi, sekitar 20 orang diketahui tertimpa dan terkubur di bawah reruntuhan. Alat besar yang digunakan Israel itu, kini menghancurkan orang-orang dan tenda di halaman Rumah Sakit Kamal Adwan,” kata wartawan Al-Jazeera, Hani Mahmoud dari Rafah di Gaza selatan, dikutip dari laman Al-Jazeera, Senin, (18/12/2023).
Menkes Palestina, Al-Kaila mendesak masyarakat internasional untuk menyelidiki situasi terkini dan tidak mengabaikan kejahatan perang yang dilakukan Israel terhadap Palestina di Jalur Gaza.
“Selama beberapa hari, tentara Israel mengepung dan menembaki RS Kamal Adwan. Mereka pun menghancurkan bagian selatan rumah sakit. Di sana, masih ada 12 bayi yang berada di dalam inkubator, tanpa persediaan air dan makanan,” ujar Al-Kaila.
Semenjak serangan yang terjadi di Kamal Adwan, para dokter kehabisan persediaan ruangan dan alat medis. Pasukan Israel juga menangkap manajer dan melakukan interogasi seluruh staf rumah sakit.
Organisasi kesehatan dunia, WHO mengirimkan bantuan medis dan obat-obatan ke rumah sakit, Sabtu lalu, (16/12/2023). Hal itu diberikan bagi melayani ribuan pasien setidaknya membutuhkan operasi dasar. Adapun tim medis yang masih bekerja hanya segelintir dokter, perawat, dan 70 sukarelawan.
“Setelah pengeboman tanpa henti seperti yang terjadi di Rumah Sakit Indonesia, Gaza utara. Sampai saat ini, hanya tersisa 11 dari 36 rumah sakit yang masih beroperasi. Maka dari itu, kami memohon agar tidak kehilangan fasilitas kesehatan untuk masyarakat Palestina,” ucap Rik Peeperkorn, perwakilan WHO wilayah Palestina, dalam konferensi pers PBB.
(Leonardus Selwyn)