6 Tips Traveling Aman dengan Anak Autis, Dijamin Nyaman dan Menyenangkan

Narissa Nurulita Pamuji, Jurnalis
Selasa 12 Desember 2023 09:01 WIB
Ilustrasi (Foto: Freepik)
Share :

BERLIBUR memang menyenangkan tapi bisa membuat stres, mulai dari memesan tiket pesawat, mengatur akomodasi, dan merencanakan rencana traveling. Hal ini akan menjadi lebih sulit jika seseorang bepergian dengan anak-anak berkebutuhan khusus, seperti autisme.

Bagi anak-anak autisme, bepergian bisa menjadi sebuah perjuangan. Autisme atau neurodivergent adalah suatu konsep yang menjelaskan variasi dalam otak manusia mengenai kemampuan bersosialisasi, pembelajaran, perhatian, suasana hati, dan fungsi mental lainnya dalam arti non-patologis.

Ini bukanlah sebuah kekurangan. Sebaliknya, ini adalah masalah perkembangan di mana anak-anak tersebut memiliki kekuatan dan tantangan yang beragam, dan berbeda dengan mereka yang dianggap neurotipikal.

Anak-anak yang neurodivergent termasuk mereka yang menderita attention deficit hyperactivity disorder (ADHD) dan gangguan spektrum autisme (ASD). Anak-anak ASD cenderung berjuang tanpa rutinitas, mereka memiliki sensitivitas sensorik sehingga cenderung berlebihan ketika bepergian khususnya ke tempat-tempat baru di luar zona nyaman mereka.

Konsultan Psikiater dan Direktur Medis The Starfish Clinic of Psychiatry & Mental Wellness, Dr Syed Harun Alhabsyi menjelaskan, tidak semua anak dapat menolerir perjalanan jauh dan hal yang sama juga berlaku untuk anak-anak neurodivergent.

"Transportasi tidak menjadi masalah, baik melalui darat, udara, atau laut, yang dapat menyulitkan anak-anak neurodivergent adalah untuk beradaptasi," kata Syed Harun, mengutip Channel News Asia.

Berikut enam tips traveling aman bareng anak autisme, agar perjalanan Anda aman dan nyaman sebagaimana disarankan Dr Syed Harun Alhabsyi;

1. Susun perencanaan yang baik

Para ahli medis mengatakan bahwa sebagian besar orangtua dan wali sudah mengetahui kepekaan apa yang dimiliki anak-anak mereka dan mempersiapkan diri untuk itu. Untuk anak-anak yang belum pernah melakukan perjalanan jarak jauh, latihan akan menyempurnakannya.

2. Lakukan simulasi perjalanan

Dr Syed mengatakan, jika akan melakukan perjalanan jauh atau melakukan perjalanan darat, lakukan simulasi perjalanan di Singapura dengan naik bus atau kereta api yang lebih lama dari biasanya, atau bahkan berkeliling pulau tanpa berhenti untuk melihat bagaimana respons anak. Idenya adalah untuk membiasakan anak dengan transportasi dan mengetahui kebutuhannya dari simulasi perjalanan tersebut.

Selain itu, memberikan pengarahan kepada anak tentang cara efektif ketika mereka dapat mengantisipasi perubahan dan tidak terkejut dengan sensorik yang berlebihan saat berada di tempat yang ramai atau menghadapi lingkungan baru seperti kereta berkecepatan tinggi.

3. Buat rutinitas dan kebiasaan yang nyaman

Perubahan jadwal dan istirahat dalam rutinitas sangat memengaruhi anak-anak neurodivergent.

"Orangtua dan wali harus memerhatikan gangguan ini dan sedapat mungkin, cobalah untuk memasukkan beberapa rutinitas rutin anak mereka selama perjalanan, seperti waktu makan camilan atau barang atau mainan yang membuat mereka nyaman," kata Dr Abraham.

Ia menambahkan bahwa perencanaan yang matang untuk meminimalisir gangguan dan keterlambatan akan membantu. Hal-hal seperti pemilihan bandara dan maskapai penerbangan, waktu transit, bahkan waktu perjalanan dan transportasi, akan membuat transisi dari rutinitas ke liburan tidak terlalu mengganggu.

4. Teliti dan sigap terhadap fasilitas

Dr Abraham menyarankan para orangtua untuk meneliti maskapai penerbangan dan bandara mana yang menyediakan bantuan bagi anak-anak dengan neurodivergent.

Sebagai contoh, Changi Airport Group, Singapura meluncurkan sebuah inisiatif untuk mendukung mereka yang memiliki disabilitas seperti ASD, down syndrome, dan demensia.

Sebuah lanyard disediakan bagi mereka yang memiliki kondisi ini dan memberi tahu staf bandara tentang keberadaan dan kebutuhan mereka.

Selain itu, ada staf yang telah dilatih untuk membantu dan panduan langkah demi langkah juga disediakan untuk penumpang tersebut.

Inisiatif serupa, yang disebut skema Hidden Disabilities Sunflower tersedia di Selandia Baru pada semua bandara utama mereka di Auckland, Christchurch, dan Wellington.

Inisiatif ini juga dilakukan di Inggris, tetapi Bandara Manchester melangkah lebih jauh dengan menyediakan bantuan dalam bentuk buklet khusus terminal, membantu anak belajar tentang bandara dan cara mempersiapkan diri untuk penerbangan.

5. Ciptakan tujuan untuk anak

Profesional pemasaran Daphne Lee, seorang ibu dari dua anak yang anak bungsunya menderita ADHD, menetapkan tujuan untuk anaknya. "Ini adalah satu-satunya cara agar kami dapat memastikan dia tetap fokus, pada tugas dan kami dapat memastikan dia cukup termotivasi untuk menindaklanjutinya," ucap Lee.

Hal yang sama dilakukan saat keluarga bepergian. "Saya menetapkan tujuan yang harus dicapainya, lakukan ini dan temukan itu. Selesaikan ini dalam perjalanan, sehingga tetap ada struktur yang berlaku," imbuh dia.

6. Bersikap fleksibel dan realistis

Menjaga segala sesuatu dengan santai dan mudah dalam rencana perjalanan Anda adalah cara yang bagus untuk mengantisipasi setiap episode dan untuk mengelola ledakan.

Meskipun struktur kelompok tur bebas dari kerepotan bagi banyak orang, namun mungkin tidak cocok untuk anak dengan autisme yang lebih muda yang tidak terbiasa bepergian.

Lebih lanjut ia juga merekomendasikan untuk melakukan pendekatan santai saat tamasya dan tidak memasukkan terlalu banyak kegiatan ke dalam rencana perjalanan agar tidak membebani anak.

(Rizka Diputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya