Situs resmi Nationaal Militair Museum menyebutkan Sparrowhawk dibeli pada 1990 sebanyak 34 unit. Pesawat tak berawak itu diberi nama Anjing NICA karena kebetulan tiga orang tentara yang bertugas mengendalikannya memiliki latar belakang Belanda-Indonesia.
Kebetulan paman dari ketiga orang tentara itu pernah jadi tentara KNIL di divisi Batalyon Infanteri V yan beroperasi di Jawa, Indonesia. Mereka juga dikenal sebagai divisi Anjing NICA.
Batalyon ini terdiri dari bekas tawanan perang dan interniran orang Belanda dan Indo, serta orang pribumi yang mendaftar, terutama Ambon, Manado, Timor, Jawa, dan Sunda. Nah dari situlah nama drone tersebut dinamakan Anjing NICA.
2. Lencana dan Seragam Tentara di Papua Barat
Museum ini juga memamerkan beberapa pacth peninggalan pasukan Raider Kodam Diponegoro dan pasukan Linud Siliwangi. Selain pacth ada juga lencana penerjun payung.