3,9 Milyar Penduduk Dunia Berisiko Terinfeksi DBD, Begini Penjelasan Pakar

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis
Jum'at 24 November 2023 09:00 WIB
Nyamuk aedes aegypti. (Foto: Freepik.com)
Share :

MASYARAKAT kini tengah dihebohkan dengan inovasi wolbachia yang sedang digalakkan pemerintah. Inovasi ini dilakukan untuk menekan tingginya kasus demam berdarah dengue (DBD) yang kerap terjadi di Tanah Air.

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Maret 2023 Dengue adalah infeksi virus DENV yang ditularkan melalui gigitan nyamuk. Ada empat tipe virus dengue, yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4.

Sekitar separuh penduduk dunia berisiko mendapat dengue, dengan perkiraan sampai 100–400 juta infeksi di dunia setiap tahunnya. Dengue ini bervariasi gejala kliniknya, dari yang ringan sampai yang amat berat sampai kematian.

WHO menyatakan bahwa insidens dengue meningkat secara dramatis dalam dekade terakhir di dunia, meningkat dari 505.430 kasus pada 2000 melonjak menjadi 5,2 juta pada 2019. Data lain berdasar “modelling” memperkirakan terjadinya 390 juta infeksi dengue per tahunnya di dunia.

Di mana diantaranya hanya sekitar 96 juta yang bermanisfestasi secara klinik dengan jelas. Jadi memang harus diketahui juga bahwa cukup banyak kasus yang tidak terdiagnosis dengan baik dan hanya disebut sebagai penyakit demam (febrile illnesses).

Mantan Direktur Penyakit Menular WHO Asia Tenggara, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, satu penelitian lain bahkan menyebutkan bahwa ada sekitar 3,9 milyar penduduk dunia yang berisiko terinfeksi virus dengue.

WHO menyatakan bahwa dengue tercatat sebagai penyakit endemik di lebih dari 100 negara di dunia. Disebutkan juga bahwa 70 persen kasus dengue di dunia terjadi di benua Asia. Data dari WHO Asia Tenggara menyebutkan bahwa Indonesia adalah salah satu 30 negara didunia yang endemik tinggi dengue (30 most highly endemic countries in the world).

Pada 10 September 2023 ini Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa angka-angka dengue kita juga semakin meningkat. Angka kejadiannya sekitar 25.000/100.000 penduduk di tahun 2012 menjadi 52.000/100.000 penduduk di 2022.

Bahkan, di negara kita kenaikan ini tidak hanya terjadi pada kasus dengue, tapi juga terjadi pada kasus kematian. Tercatat, di 2018 'case fatality rate' dengue negara kita sebesar 0,71 persen, yang meningkat jadi 0,86 persen di 2022.

"Menurut WHO maka pencegahan dan pengendalian dengue utamanya bergantung pada pengendalian vektor (vector control), ini kunci utama pencegahan penularan. Disebutkan di laman Dengue WHO terbaru Maret 2023 adalah untuk mengurangi kemungkinan di gigit nyamuk dengan berpakaian yang tertutup, penggunaan kelambu kalau tidur siang, penggunaan mosquito repellents (yang mengandung DEET, Picaridin atau IR3535) dll," tutur Prof Tjandra.

Dia menambahkan jika seseorang sudah jatuh sakit maka tidak ada obat yang spesifik untuk membunuh virus dengue (DENV). Deteksi awal dan akses pada pelayanan kesehatan yang baik merupakan kunci utama untuk menurunkan angka kematian.

"Apalagi kalau diberitakan bahwa Indonesia target bersama mencapai nol kematian akibat dengue di 2030 (zero dengue death by 2030). Jadi, pengendalian dengue memang harus bersifat menyeluruh," tuturnya.

(Leonardus Selwyn)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya