POLUSI udara yang terjadi di Indonesia membuat beberapa daerah khususnya kota-kota besar mengalami masalah serius.
Menurut data yang didapat dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan di daerah Jabodetabek wilayah Bogor menempati urutan pertama dengan skor 506 yang artinya memiliki kualitas udara tergolong berbahaya dibandingkan kota lainnya.
Permasalahan tersebut, bisa saja menimbulkan dampak pada kesehatan kulit. Gatal dan iritasi merupakan salah satu masalah kesehatan yang mulai banyak ditemukan akibat polusi yang meningkat.
Dokter Spesialis Dermatologi Venereologi, dr Eko Prakoso Wibowo, Sp. DVE menjelaskan lebih lanjut terkait kulit gatal. Ternyata hal ini bisa dialami oleh generasi Z atau seseorang yang berada di rentang usia 13-27 tahun.
“Beberapa hal yang menjadi faktor seringnya generasi Z mendapatkan serangan gatal yang pertama adalah karena di usia produktif generasi Z cenderung lebih aktif melakukan kegiatan outdoor, sehingga terpapar matahari dan polusi,” kata dr Eko, dikutip dalam acara Media Briefing Klinik Pramudia, di kawasan Menteng, Jakarta, Rabu (22/11/2023).
Lebih lanjut, masalah kedua karena adanya gaya hidup kurang sehat seperti makan makanan cepat saji dan minuman manis, dan yang ketiga berkaitan dengan stres. Sebab, biasanya stres dapat timbul akibat kehidupan sehari-hari seperti kegiatan sekolah, bekerja, yang mana semua itu akan berkesinambungan dengan waktu istirahat atau waktu tidur.
Sehingga memicu banyak permasalahan kulit yang diawali dengan rasa gatal. Menurut dr Eko, rasa gatal tidak hanya menimbulkan kondisi tidak nyaman tetapi juga menjadi salah satu gejala dari berbagai permasalahan kulit. Misalnya yang paling sering ditemukan adalah eksim, infeksi jamur, dan akne vulgaris.
“Gejala gatal seringkali dicetuskan dan bertambah parah oleh kondisi tertentu. Contohnya cuaca panas dapat meningkatkan aktivitas kelenjar minyak sehingga menyebabkan kambuhnya eksim tipe seboroik,” ucap dr Eko.