MIGRAIN atau sakit kepala sebelah kerap menimbulkan rasa nyeri yang mengganggu aktivitas. Hal tersebut terjadi karena pengaruh stres, perubahan hormon, dan kondisi lingkungan.
Dalam beberapa kasus, kondisi lingkungan seperti polusi udara sering memicu gejala migrain. Merangkum dari laman Medical News Today, Kamis (31/8/2023) ternyata ada hubungan antara polusi udara dengan migrain.
Beberapa penelitian juga menunjukkan bahwa paparan gas yang terdapat pada polusi udara dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya migrain.
“Dalam salah satu penelitian 2021 pada lebih dari 360.000 orang di California Utara, terdapat hasil bahwa paparan jangka panjang terhadap peningkatan kadar nitrogen dioksida dan metana dikaitkan dengan peningkatan kemungkinan terkena migrain masing-masing sebesar 2 dan 4 persen,” tulis penelitian tersebut, dikutip dalam laman Medical News Today, Rabu (30/8/2023).
Hal itulah yang terkadang membuat polusi udara sering dikaitkan dengan berbagai gangguan neurologis, termasuk kondisi neurodegeneratif, stroke, autisme, depresi, dan keterlambatan perkembangan. Selain itu, menurut PubMed Central polusi udara juga memberikan efek berbahaya melalui subkomponennya.
Salah satunya adalah polutan klasik seperti partikel (PM), yang terdiri dari partikel dengan ukuran yang sangat kecil. Dengan kata lain, PM 2.5 juga terdiri dari PM halus, dengan partikel lebih kecil dari 2,5 mikrometer.
Meskipun ada akumulasi data tentang hubungan antara polusi udara dan sakit kepala secara keseluruhan, khususnya migrain. Akan tetapi, ada beberapa perbedaan pendapat dalam beberapa penelitian tentang patofisiologi dan kemungkinan jalan terapi pada penderita migrain.