POLUSI udara di Indonesia yang semakin meningkat tengah menjadi sorotan netizen. Sejumlah perusahaan telah menerapkan kebijakan Work From Home (WFH) sehingga para pekerja untuk melakukan aktivitas di rumah untuk menghindari penyakit akibat polusi udara.
Selain itu, langkah WFH ini juga dipercaya dapat mengurangi polusi udara. Lantas apakah hal tersebut benar?
Seorang ilmuwan dari Institute of Environmental Science and Technology of the Universitat Autònoma de Barcelona (ICTA-UAB) melakukan analisis data yang didapat dari model kualitas udara pada masa karantina Covid-19 di Barcelona pada 2020.
Dilansir dari halaman resmi earth.com, Rabu (22/08/2023) para peneliti mengamati tentang berkurangnya mobilitas masyarakat berkolerasi pada penurunan polusi udara yang tajam.
Setelah melakukan analisis data, seorang ilmuwan mempertimbangkan tentang 80 persen tenaga kerja dan 40 persen tranportasi umum akan menyebabkan polusi udara meningkat. Maka dari itu seorang ilmuwan membuat tiga skenario tentang bekerja dirumah (WFO) untuk mengurangi polusi udara.
Skenario yang pertama memperlihatkan emisi lalu lintas berkurang lima persen dan Nitrogen dioksida (NO2) sebesar empat persen. Untuk skenario yang kedua mendapatkan penurunan emisi sebesar 10 persen dan delapan persen Nitrogen dioksida (NO2).
Sementara skenario ketiga memperlihatkan emisi lalu lintas menurun 15 persen dan Nitrogen dioksida (NO2) menurun 10 persen terhadap berkurangnya polusi udara.