SUDAH hampir lima abad, budaya caos dahar rorogending dari Kelurahan Kadilangu, Demak, Jawa Tengah, terus dilestarikan.
Menu caos dahar ini kerap menjadi sarana hajatan dan kabarnya kuliner ini menjadi kelangenan atau makanan kegemaran Sunan Kalijaga.
Selain harus ditempatkan dalam wadah tampah yang besar, menu caos dahar rorogending cukup bervariasi, dari nasi, sayuran, lalapan hingga lauk yang disajikan cukup mengundang selera.
Budaya caos dahar. (Foto: Ist)
Menu caos dahar rorogending biasanya disajikan kepada tamu wali atau para raja. Belakangan warga ingin keberkahan dengan memakai menu caos dahar rorogending untuk kepentingan hajatan.
Selain ajaran Islam dan bangunan masjid yang indah, di Kelurahan Kadilangu, Demak, Jawa Tengah, Sunan Kalijaga juga meninggalkan warisan berupa resep masakan khas kegemaran para wali.
Karena sering disajikan untuk tamu agung, kuliner ini dikenal sebagai masakan caos dahar rorogending.
Menu caos dahar memilki falsafah yang unik, seperti sayur bening daun kelor untuk tolak balak. Urap daun mengkudu yang berarti urip atau hidup, dan sayur bumbu trancam, agar orang yang makan lebih tajam menggayuh cita-cita.
Sejumlah lauk dalam caos dahar, seperti ayam jago bakar, ikan lele bakar dan ikan asin bakar diberi bumbu pedas, menunjukan kesederhanaan laki-laki yang harus bekerja keras.
Semua sayuran dan lauk ditata rapi di atas nasi golong yang berjumlah sembilan, dan caos dahar di sajian dalam wadah tampah dari bambu.
Untuk memasak caos dahar harus seorang wanita yang sudah manopause. Lebih unik lagi, saat masak tidak boleh ada yang mencicipinya, karena akan dianggap nyisani atau masakan tersebut sudah bekas orang lain.
Dalam perkembangannya, menu caos dahar rorogending masuk dalam kuliner khas Kabupaten Demak, Jawa Tengah.
(Simon Iqbal Pahlevi)