Sementara itu dokter kulit Dr. Nishita Ranka menyebutkan dampak sinar yang dipancarkan oleh perangkat elektronik, yang dikenal dengan High-Energy Visible (HEV) atau sinar biru, menurutnya masih terus dipelajari.
Penelitian menunjukkan memang paparan blue light dalam waktu lama bisa menyebabkan penuaan kulit, hiperpigmentasi, dan potensi stres oksidatif. Namun di sini maksudnya, bagaimana atau seberapa tingkat kerusakan kulit akibat HEV ini belum sepenuhnya dipahami.
“Pengalaman saya, memang banyak menjumpai pasien punya masalah kulit terkait perangkat elektronik, seperti peningkatan sensitivitas kulit, kulit kering, atau warna kulit yang tak rata,” tutur Dr. Nishita.
“Menurut saya, penelitian lebih lanjut tentang hal ini tetap diperlukan untuk dapat kesimpulan yang pasti. Tapi memang, baiknya melakukan tindakan pencegahan untuk meminimalkan potensi bahaya dari layar gadget ini,” pungkasnya.
(Rizky Pradita Ananda)