SELAMA ini banyak orangtua yang yakin bahwa persalinan normal adalah jenis persalinan terbaik. Oleh karena itu, banyak calon ibu yang berusaha maksimal untuk bisa melahirkan bayinya dengan persalinan normal.
Secara medis, persalinan normal memang lebih unggul bagi wanita yang melahirkan dan juga sang bayi, karena proses fisiologi tubuh akan berjalan normal setelahnya.
“Saat proses melahirkan secara normal, bayi pertama kali bersentuhan dengan mikroba baik yang ada di Miss V ibunya. Itu kasih kekebalan tersendiri pada tubuh bayi," ungkap dr Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K), Spesialis Anak Konsultan Gastrohepatologi dr Ariani Dewi Widodo, Sp.A(K).
Mikroba baik yang dimaksud ialah mulai dari Bifidobacterium, Lactobacillus, Bacteroides, dan Enterobacteriaceae. Berbeda dengan persalinan caesar, yang mana dilakukan tindakan operasi pada tubuh si ibu, yang disebutkan ternyata memberikan dampak kurang baik pada bayi.
"Lain cerita dengan bayi lahir sesar, bayi pertama kali berinteraksi dengan mikroba tubuh ibu yang ada di kulit, yang mana kebanyakan adalah mikroba jahat bukan baik," sambungnya.
Mikroba jahat tersebut meliputi, Enterobacteriaceae, Staphylococcus, Clostridium dan Streptococcus, dam masih ada lagi yang lainnya.
Dengan paparan mikroba pertama kali yang berbeda, sambung dr Ariani, inilah yang membuat bayi yang dilahirkan secara sesat bisa berisiko lebih mudah sakit dibanding bayi yang dilahirkan lewat persalinan normal.
“Dari penjelasan jenis mikroba tersebut, diketahui bahwa anak yang lahir secara caesar membawa mikroba yang jelek saat lahir dari paparan mikroba di kulit ibu. Lain dengan anak dari persalinan normal,” papar dr. Ariani.
Namun tidak perlu cemas, bayi yang dilahirkan lewat persalinan sesar tetap punya kesempatan tumbuh dengan sehat dengan pemberian ASI eksklusif, karena ASI mengandung banyak sekali mikroba baik. Inilah yang pada akhirnya bisa menyeimbangkan mikroba di dalam tubuh.
BACA JUGA:
"Yang tadinya mikroba jahat mendominasi, dengan masuknya ASI, itu bisa jadi upaya menyeimbangan mikroba di saluran cerna," kata dr. Ariani lagi.
BACA JUGA: