Secara inovasi, dakwah digital harus menggunakan platform digital yang ada dengan sentuhan inovasi, seperti transmedia (perpaduan teks, suara, gambar, gerak), atau pola-pola terkini sesuai perkembangan, karena pelacakan informasi apapun bagi Gen-Z adalah pelacakan digital (internet/i-Gen).
Hal itu penting, karena pengguna smartphone di Indonesia adalah terbesar ketiga di Asia Pasifik, dengan media sosial favorit, yakni youtube dengan 113 juta pengguna, facebook dengan 111 juta pengguna, lalu Twitter, TikTok, dan 'transmedia'.
Di sini, Masjid Nasional Al Akbar Surabaya (MAS) sudah melakukan berbagai inovasi berbasis digital, di antaranya studio dakwah digital (Radio-TV-Podcast), diorama tafsir digital, dan cara-cara milenial dalam peribadatan.
Namun, inovasi saja tidak cukup, karena dunia digital juga sarat dengan jebakan digital (hoaks, ujaran kebencian atau olok-olok yang tidak waras).
Intinya, gosip digital itu bisa menjadi "jebakan" dalam bentuk informasi bohong maupun informasi realistis tapi "dibelokkan". Yang gawat lagi, 54,87 persen generasi muda mencari referensi keagamaan melalui internet. Dahulu, masyarakat mencari pemahaman keagamaan ke mimbar-mimbar pengajian, sekarang masyarakat mencarinya ke media sosial atau situs web. Jadi, harus hati-hati.
Langkah untuk mencapai kesalehan digital ada tiga langkah yang dapat disimak dalam buku "Kesalehan Digital" (Penerbit CV Campustaka, Jakarta, 2023), yakni informasi berbasis Sanad (narasumber dan narasumber kompeten), Matan (konten yang ada tabayyun/klarifikasi/sanad, Keadilan/objektif, Ukhuwah/bukan fitnah-ghibah), dan Rawi (Penyampai/Media yang terverifikasi Dewan Pers/KemenkumHAM/organisasi profesi).
Walhasil, strategi dakwah untuk Gen-Z agaknya memang perlu memadukan metode digital (inovasi dan kolaborasi/sinergi digital) dan non-digital (karakter/kesalehan digital), sehingga Gen-Z tetap akrab dengan dunia-nya, namun Gen-Z tidak tercerabut dari karakter yang saleh.
(Salman Mardira)