Dakwah dan Kesalehan Digital
Terkait dakwah digital, Masjid Al Akbar beralih ke WhatsApp (WA) grup sejak tahun 2020 yang interaktif dan murah. Kini, masjid terbesar di Surabaya itu merambah ke website dan kanal media sosial seperti Facebook, Instagram, dan Youtube. Untuk berinfaq, zakat, atau sedekah, masyarakat tinggal pakai QR code.
Jadi, Masjid Al-akbar sudah membiasakan siaran langsung shalat Jumat lewat Youtube. Begitu jamaah pulang ke rumah dan masih penasaran dengan pesan khutbah tadi, maka dia tinggal buka gawai dan memutar ulang ceramah tadi.
Namun, dakwah digital itu bukan sekadar viral, melainkan materi dakwah yang bermanfaat, materi bisa viral, tapi bukan justru virologi atau meracuni yang berujung pada kemaksiatan atau dosa.
Oleh karena itu, dakwah untuk Generasi Z harus menyesuaikan dengan metode dan strategi ala dunia digital yang merombak struktur komunikasi antarmanusia dari komunikasi nyata menjadi maya/digital.
Boleh dibilang, struktur komunikasi yang ada bisa menjadi "mesin pembunuh" karakter, akibat dunia maya yang dijejali dengan informasi hoaks dan pertikaian antara buzzer versus buzzer yang diwarnai dengan ujaran kebencian dan saling mengolok-olok/menyalahkan.
Ibaratnya, teknologi semakin maju, namun manusia semakin purbakala, karena karakter "menghalalkan" hoaks, buzzer, bully, atau ujaran kebencian, seperti bukan manusia saja, atau seperti bukan manusia yang maju saja, yang menghalalkan segala cara.
Namun, siapa pun tidak punya alternatif, kecuali memasuki lapangan digital itu dengan siasat waras, maju, dan strategis di tengah kegilaan dunia yang tanpa obat itu.
Nah, strategi dakwah di era digital adalah bagaimana menyajikan cara-cara berbasis karakter yang waras, maju, dan strategis , atau cara-cara yang tidak terpengaruh untuk mementingkan viral semata dengan mengorbankan atsu membunuh karakter. Tidak melayani "olok-olok" dengan "olok-olok" pula. Jadi, strategi dakwah yang berkarakter di era digital adalah dakwah berbasis inovasi dan dakwah yang mendorong karakter digital.