PROVINSI Maluku memiliki keindahan alam luar biasa dan kaya sejarah. Dikenal dengan sebutan Jazirah al-Mamluk atau Kepulauan Raja-Raja, Maluku dari dulu adalah penghasil rempah-rempah. Tak heran bangsa Eropa dulu turut berburu rempah ke Maluku.
Masyhurnya perdagangan rempah di Maluku dulu menarik banyak pebisnis dari luar. Para pendakwah Muslim pun memanfaatkan jalur ini untuk menyebarkan Islam ke Tanah Maluku pada abad 15.
Perjalanan Islam di Maluku bisa dilihat dari keberadaan masjid. Ada sejumlah masjid tua bersejarah yang masih dilestarikan di Maluku dan bisa jadi tempat wisata religi.
BACA JUGA:
Masjid-masjid tersebut menjadi bukti sejarah Islam di Maluku yang telah berkembang sejak abad ke-15. Berikut beberapa masjid bersejarah di Maluku.
1. Masjid Tua Wapauwe
Masjid Tua Wapauwe di Maluku Tengah dibangun di lereng gunung Wawane oleh Pernada Jamilu, keturunan Kesultanan Islam Jailolo dari Moloku Kie Raha (Maluku Utara).
Masjid ini dibangun sejak abad ke-15 atau pada tahun 1400 M. KedatanganJamilu di kawasan tersebut, menyebarkan Islam ke lima negeri yang ada di sekitar pegunungan Wawane yakni Assen, Wawane, Atetu, Tehala dan Nukuhaly, yang sebelumnya sudah dibawa oleh mubaligh dari negeri Arab.
Masjid Tua Wapauwe
Masjid ini mengalami perpindahan tempat akibat serangan Belanda yang menginjakkan kakinya di Tanah Hitu pada 1580 Masehi, setelah sebelumnya dijajah Portugis pada 1512. Masjid Wawane dipindahkan ke Kampung Tehala yang berjarak 6 km sebelah timur Wawane pada 1614.
BACA JUGA:
Kini masjid Wapauwe berada di Negeri Kaitetu. Daya tarik lainnya dari masjid ini adalah koleksi mushaf Alquran yang masuk salah satu yang tertua di dunia.
Mushaf Imam Muhammad Arikulapessy yang selesai ditulis (tangan) pada tahun 1550 Masehi dan tanpa iluminasi (hiasan pinggir). Sedangkan Mushaf lainnya adalah Mushaf Nur Cahya yang selesai ditulis pada tahun 1590, dan juga tanpa iluminasi serta ditulis tangan pada kertas produk Eropa.
2. Masjid Jami Ambon
Masjid Jami Ambon didirikan pada 1860 M di atas tanah waqaf yang diberikan oleh seorang janda bernama Kharie.
Pada awal pembangunannya, masjid Jami berdinding dan beratapkan daun rumbia dengan tiang kayu. Menjelang berakhirnya kolonial Belanda di Maluku, masjid sempat terbakar akibat ulah tentara Belanda yang membuka keran minyak di sebelah hulu Sungai Wai Batu Gajah, dan kemudian dibangun kembali oleh para jamaah dan umat Islam sekitar.