“Proporsi orang yang terkena dampak atas masalah ini, memperlihatkan perlunya memperluas akses ke perawatan kesuburan. Selain itu sekaligus juga memastikan masalah ini tidak lagi dikesampingkan, dalam penelitian dan kebijakan kesehatan," jelas Tedros Adhanom Ghebreyesus, Direktur Jenderal WHO.
WHO sendiri mendefinisikan infertilitas atau kemandulan, sebagai penyakit pada sistem reproduksi pria atau wanita yang didefinisikan sebagai kegagalan untuk mencapai kehamilan setelah 12 bulan atau lebih melakukan hubungan seksual tanpa kondom secara teratur.
Namun menariknya, laporan yang diungkap WHO tersebut, disanggah oleh James Kiarie, kepala unit Contraception and Fertility Care. Menurutnya, tak ada bukti terjadinya tingkat infertilitas antara tahun 1990 dan 2021.
"Berdasarkan data yang kami miliki, kami tidak dapat menyebutkan bahwa kemandulan meningkat atau konstan,” ujar James.
(Rizky Pradita Ananda)