Explore Rumah Topeng dan Wayang di Bali, Menengok Kekayaan Budaya Nusantara

Antara, Jurnalis
Kamis 02 Maret 2023 17:00 WIB
Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma di Ubud, Gianyar, Bali. (Foto: ANTARA/Pungkas Dwitanto)
Share :

Masing-masing Joglo memiliki asal-usul dan usia yang berbeda. Contohnya, Joglo Boma yang berasal dari Demak, Jawa Tengah. Joglo Boma didapatkan pada tahun 1999 dan diperkirakan berusia lebih dari 100 tahun. Seluruhnya terbuat dari kayu jati, dicat dengan warna kuning (pari anom-Jawa) dengan pinggiran atau lis berwarna hijau tua yang menyimbolkan kemakmuran. Sedangkan gebyok (pembatas ruangan) adalah simbol dari kemegahan.

Selanjutnya, ada Joglo Senori yang berasal dari Tuban, Jawa Timur. Joglo Senori memiliki usia kurang lebih 125 tahun, dengan tinggi di atas rata-rata rumah joglo lainnya (4 Meter). Keseluruhan terbuat dari kayu jati. Bangunan ini didapat pada tahun 1998 dari Benari, daerah pesisir Tuban, Jawa Timur. Sebelumnya rumah Jawa Kuno ini dihuni oleh keluarga Tionghoa dengan ciri ornamen yang ada di dalamnya adalah khas dari Tiongkok.

Koleksi ikonik

Selain memiliki tatanan bangunan yang unik, Rumah Topeng dan Wayang Setia Darma juga memiliki beberapa koleksi topeng dan wayang yang ikonik, di antaranya adalah Barong Landung dan wayang kulit Bali “Ramayana”.

“Yang paling ikonik di sini itu topeng dari Bali, soalnya Pulau Bali itu kan terkenal dengan paduan warna dan umur topengnya. Kalau di sini umur topengnya kan asli tua dan terdapat di daerahnya masing-masing, dan sering dipakai buat acara kebudayaan juga,” kata Desak.

 

Salah satu cerita terkenal dari topeng-topeng tersebut yakni Topeng Barong Landung, yang menceritakan seorang Raja Bali, Jaya Panggus yang jatuh cinta kepada Puteri China bernama Kan Ching Wee yang yang berlabuh di pantai utara Bali. Raja tersebut membuat sebuah istana yang indah bernama Balingkan. Setelah menikah, raja pergi mencari seorang wanita yang mau memberikannya keturunan untuk pewaris tahtanya.

Namun, sang raja berbohong mengaku belum menikah saat bertemu dengan Putri Danau Batur. Pada saat melangsungkan pernikahannya, mereka meminta kepada Dewa Danau Batur supaya tidak ada orang yang mengganggu pernikahan mereka.

Kan Ching Wee kemudian menyusul suaminya pergi ke Danau Batur. la kemudian bertemu dengan ibu dan anak dari suaminya, Sang Dewa menjadi sadar bahwa mereka telah ditipu, karena ternyata Sang Raja telah menikah.

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita Women lainnya