Uniknya, warna hitam yang digunakan sebagai pewarna utama kerajinan ukiran daun lontar ini didapatkan dari bahan alami yaitu buah kemiri yang dibakar.
“Kemirinya itu dibakar biar dia menghitam, tapi usahakan minyaknya masih ada, kalau sampai kering itu gagal. Dulu pernah pakai kacang tanah tapi takut dicari semut soalnya manis, makanya sekarang kami pakai kemiri,” ungkap Wayan.
Kerajinan ukir daun lontar memiliki bentuk dan gambar beragam seperti motif Pulau Bali, kalender, cerita Ramayana dan pembatas buku,
“Mungkin untuk ke depannya, anak-anak muda itu biar bisalah menggambar di lontar tidak ke gadget saja. Masalahnya perajin lontar kan cuma sedikit apalagi sastranya, semoga bisa tetap dilestarikan untuk menjaga warisan budaya ini,” pungkas Wayan.
(Salman Mardira)